Tuntunan
membina penggalang lengkap
2012
Buku
Tuntunan
Untuk
Para Pembina Penggalang dan Pembantu Pembina
Penggalang
Disusun berdasarkan petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan
oleh KWARTIR NASIONAL Gerakan Pramuka
Penerbit
“Darma KARYA PRAMUKA”
Jl.Babakan
Ds. Kedayunan Kabat Banyuwangi
Hak
pengarang dilindungi oleh undang-undang
Isi buku
BAB I
1.
Sambutan dari Kwarda Jawa Timur..........................................................
2.
Prakata Dari Penyusun........................................................................
BAB II
1.
Lagu Indonesia Raya..........................................................................
2.
Lagu Satya Dharma Pramuka.............................................................
BAB III
1.
Bagaimana Anak Penggalang itu ?
....................................................
BAB IV
2.
Anak Penggalang yang baik
adalah ...................................................
BAB V
Syarat Syarat yang perlu dimiliki oleh pembina penggalang....................
BAB VI
Tri Satya dan Dasa Dharma Penggalang...................................................
BAB VII
1.
Struktur Organisasi Gugus Depan......................................................
2.
Struktur Organisasi Pasukan
Penggalang............................................
BABVIII
Organisasi Pasukan Penggalang................................................................
Bab IX
M e t o d h a..............................................................................................
Bab x
Asas, Dasar serta Tujuan Gerakan Pramuka.............................................
BAB XI
Administrasi Pasukan Pernggalang...........................................................
1.
Tata Usaha Satuan Penggalang...........................................................
2.
Contoh daftar acara latihan
mingguan ...............................................
3.
Contoh Daftar Absensi dan Iuran
Tabungan Anak Didik..................
4.
Contoh Daftar Observasi Anak
Didik................................................
5.
Contoh Daftar Inventaris....................................................................
6.
Contoh Daftar Keterangan
Pribadi.....................................................
BAB XII
Peralatan Latihan......................................................................................
BAB XIII
Problema Dalam Membina Penggalang....................................................
BAB XIV
Upacara Dalam Satuan Pramuka Penggalang...........................................
BAB XV
Syarat Kecakapan Umum Penggalang......................................................
BAB XVI
Beberapa Kecakapan Pramuka..................................................................
1.
Bentuk-bentuk barisan........................................................................
2.
Baris-berbaris......................................................................................
3.
Simpul-simpul.....................................................................................
4.
Semaphore...........................................................................................
5.
Tulisan Sandi.......................................................................................
6.
Morse..................................................................................................
7.
Peta Lapangan.....................................................................................
8.
Menafsir..............................................................................................
9.
Tanda – Tanda Jejak...........................................................................
BAB XVII
Pengetahuan Agama dan Do’a.................................................................
BAB XVIII
Kamus / Istilah-istilah yang sering dipergunakan dalam gerakan
pramuka
............................................................................................................
----oo000oo---
Bab i
1. kwartir daerah gerakan pramuka
propinsi jawa timur
SURABAYA
s a m b u t a n
Dengan terbitnya buku Tuntunan Membina Penggalang, berarti menambah
perpustakaan tentang pedoman latihan kepramukaan yang dewasa ini, masih
dirasakan kurang jumlahnya yang yang karena patut disambut dengan gembira.
Khususnya bagi para pembina pramuka yang langsung menangani /
mendidik di bidang penggalang, kiranya buku ini akan bermanfaat dalam
pelaksanaan latihan anak didik, disamping itu pengetahuan-pengetahuan yang
diperolehnya dalam kursus-kursus pembina pramuka, pembacaan buku-buku lainnya
tentang kepramukaan serta pengalaman yang didapatnya dalam mengasuh / membina
anak didik.
Disamping itu sudah tentu kepada para pembina pramuka ciptakan
variasi-variasi dalam dalam membuat acara latihan dan melaksanakan
latihan-latihan sehingga tidak akan terjadi kekurangan bahan latihan.
Semoga buku ini dapat dirasa kegunaannya bagi para pembina pramuka
khususnya dan para pencinta Gerakan Pramuka umumnya.
Akhirnya kepada penyusun buku ini kami sampaikan ucapan terima kasih
serta penghargaan atas hasil karyanya, yang berarti turut serta membantu usaha
pembinaan pendidikan Praja Muda Karana.
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka
Propinsi Jawa Timur
Ketua
Ttd
YUSUF W
3. PRAKATA
“Salam Pramuka”
Setelah kami memberanikan diri untuk maju setapak menyusun buku Tuntunan
Membina Penggalang Lengkap, yang kiranya dibutuhkan oleh rekan-rekan pembina
penggalang. Tentu saja buku ini masih jauh dari sempurna namun kiranya cukup
membantu rekan-rekan kami Pembina Penggalang, juga calon-calon pembina
penggalang.
Di dalam buku ini kami cantumkan antara lain : Persoalan-Persoalan,
kesulian-kesulitan yang dihadapi oleh rekan-rekan pembina penggalang dan cara
mengatasinya.
Juga kami berikan beberapa kecakapan teknis tertentu, dengan
beberapa nyanyian dan permainan penggalang.
Akhirnya tak lupa pula kami sampaikan terima kasih kepada
rekan-rekan Pembina, Andalan dan Semua pihak yang telah memberikan saran-saran
sehingga terbitnya buku ini dan tak lupa kami Kwartir Daerah Jawa Tengah,
Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kodya Surakarta yang telah memberikan
sambutannya.
Hormat kami,
Penyusun
BAB II
I.
Lagu Indonesia Raya dan
Hymne Satya Dharma Pramuka
![]() |
BAB III
Bagaimana Anak Penggalang Itu
ANGGOTA GERAKAN PRAMUKA YANG BERUSIA 11 – 15 TAHUN DINAMAKAN “PENGGALANG”
Anak penggalang adalah dalam masa meninggalkan masa
kanak-kanak memasuki persiapan taraf persiapan pemuda remaja. Dalam taraf
perkembangan ini anak mulai dapat membedakan hal yang baik dan buruk, dan
memilih norma-norma dan nilai-nilai sosial yang cocok baginya. Misalnya, cara
berpakaian, cara berhias, tingkah laku dan sebagainya.
Anak penggalang merindukan kebebasan dan merasa
senang kalau di beri tanggung jawab dan
diperlakukan seperti pemuda dewasa. Hidup berkelompok merupakan hal yang wajar
dan menarik bagi anak, maka ini perlu disalurkan kegiatan-kegiatan regu.
Metode yang tepat dalam membina penggalang itu
memberikan kesempatan pada anak-anak untuk melakukan kegiatannya sendiri,
dengan membimbing agar :
a.
Anak memiliki sikap selalu
sedia untuk menolong orang lain dan menggalang pembangunan
b.
Mengembangkan sikap-sikap
kepahlawanan dan jiwa kesatria.
Para pembina penggalang perlu sekali memiliki contoh pribadi karena anak
penggalang suka meniru dan mencontoh sikap dan tingkah laku orang lain,
terutama orang-orang dewasa yang disanjung.
Membina penggalang tidak cukup dengan cerita-cerita
tetapi perlu menghayati sendiri, misalnya dengan, :
a.
Bermain Sandiwara Khususnya
yang bertemakan Kepahlawanan
b.
Menimbulkan semangat berkorban
dan rasa harga diri.
Dilaksanakan dengan intensif kepada regu-regu penggalangnya sendiri.
Dan rasa tanggung jawab ini dapat di tingkatkan dengan memberikan tugas-tugas
tertentu, seperti :
a.
Menyimpan uang pasikan
b.
Memelihara buku kenang-kenangan
(Log Book)
c.
Mengurus barang-barang pasukan
(Inventaris)
d.
Membuat acara kegiatan
tertentu.
e.
Merencanakan acara-acara
perkemahan bersama antara regu.
Dewan penggalang merupakan tempat penggemblengan rasa
tanggung jawab yang tepat dan juga tempat latihan cara-cara yang demokratis.
Hal-hal yang senangi anak-anak penggalang yaitu :
a.
Permainan-permainan petualangan
yang sehat.
b.
Sesuatu yang mengandung
rahasia.
c.
Perlombaan-perlombaan yang
memupuk rasa harga diri.
Permainan dalam penggalang merupaka tempat yang baik
sekali untuk mengadakan observasi dan sifat-sifat anak didik. Ini penting
sekali untuk pendidikan selanjutnya.
BAB IV
Anak
Penggalang Yang Baik Adalah …:
a.
Bertuhan.
b.
Mengamalkan Pancasila dan
melaksanakan P4.
c.
Tidak menghina antar agama
yang satu dengan agama yang lain.
d.
Berperikemanusiaan.
e.
Saling hormat –
menghormati, tidak sombong.
f.
Dalam memutuskan masalah, harus
musyawarah.
g.
Mengutamakan kepentingan
umum diatas kepentingan pribadi.
h.
Bergotong royong dalam
melakukan suatu pekerjaan.
i.
Segala tindakan harus dipikir
dulu masak-masak.
j.
Menjaga keseimbangan antara hak
dan kewajiban.
k.
Membina persatuan dan kesatuan
bangsa.
l.
Ikut mempertahankan Negara RI
(Sesuai dengan kondisinya).
m. Wajib menjaga kewibawaan dalam pemerintahan.
n.
Mentaati segala peraturan yang
berlaku.
o.
Wajib mengamalkan ilmunya.
p.
Bisa menjadi pemimpin yang
dapat dipertanggung jawabkan.
q.
Ikut membantu dalam pelaksanaan
pembangunan.
r.
Ikut membantu ciptakan
masyarakat adil dan makmur.
s.
Tidak membedakan bangsa satu
dengan bangsa lain.
t.
Mengamalkan Trisatya dan Dasa
Dharma.
BAB V
Syarat –
Syarat yang Perlu Dimiliki Oleh Pembina
Penggalang
a.
Memahami dan menghayati
Pancasila serta setuju terhadap Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
b.
Seorang yang kuat keyakinan
beragamanya, tetapi tidak fanatik.
c.
Mengerti, berpedoman,
bertindak sesuai dengan Pancasila, seperti tercantum dalam UUD 1945 serta setia
terhadap UUD 1945 dan Pancasila.
d.
Seorang yang berkemauan kuat,
mau membina dan bergerak di lingkungan anak.
e.
Sopan, ramah dan
berpendirian tegas serta memiliki kesabaran.
f.
Mempunyai kemampuan untuk
selalu menambah pengetahuan anak didik.
g.
Dapat mengikuti
perkembangan / pertumbuhan suasana sekitarnya, masyarakat desa, kota maupun seluruh tanah air Indonesia.
h.
Sanggup menyediakan waktu
untuk membina.
i.
Sebaiknya mereka sudah
kawin, syukur sudah mempunyai anak.
j.
Mempunyai bahan-bahan
banyak dalam cerita, permainan dan nyanyian.
k.
Mempunyai kecakapan untuk
pekerjaan itu.
l.
Mau meng-Upgrade diri
(mengikuti khursus-khursus yang diselenggarakan Kwartir Cabang, Daerah maupun
Nasional tingkat Mahir, Aplikasi, maupun Ahli ).
m.
Mau menerima saran,
meskipun dari orang yang lebih muda usia.
n.
Mempunyai kecakapan yang
praktis dan teknis dalam bidang kepramukaan.
o.
Mempunyai tabiat / riwayat
hidup yang baik untuk dapat diserahi pekerjaan dan tanggung jawab memimpin
anak-anak.
p.
Ia harus gemar dalam hidup
diluar (perkemahan)
q.
Ia harus mempunyai
sifat-sifat yang ada pada seorang guru atau pendidik.
r.
Ia harus berpandangan luas,
tidak sempit/picik.
s.
Banyak kreasi dan variasi.
t.
Tidak tersangkut dalam
peristiwa G 30 S dan Organisasi terlarang.
u.
Sebaiknya juga punya
pengalaman dalam membina siaga dan penegak akan lebih baik.
v.
Bertindak sesuai dengan
Satya dan Dharmanya.
BAB VI
Tri Satya dan Dasa Dharma Penggalang
Tri satya
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
-
Menjalankan kewajibanku
terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengamalkan Panca
Sila
-
Menolong sesama hidup dan
mempersiapkan diri membangun masyarakat.
-
Menepati Dasa Dharma
Dalam Trisatya Penggalang terdapat 6 macam kewajiban, yaitu :
1.
Kewajiban Terhadap Tuhan
c.
Percaya bahwa Tuhan ada, dan
selalu mengagungkan nama-Nya
a.
Rajin mendatangi ceramah agama.
b.
Bertaqwa kepada Tuhan.
c.
Menolong yatim piatu
d.
Tidak sombong
e.
Bersedia memaafkan orang lain
f.
Mau mengakui kesalahannya
g.
Suka menolong
h.
Menghormati kedua orang tua.
2.
Kewajiban Kepada Negara
- Hafal Pencasila
- Berjalan mentaati peraturan lalu lintas yang ada
- Mempelajari uud
- Tahu nama Presiden / Wakil Presiden
- Hafal lagu wajib
- Menghormati lagu kebangsaan
- Sopan santun
- Rela berkorban
- Mengerti hari-hari besar nasional
3.
Kewajiban terhadap pancasila
a.
Mengetahui bahwa sebagai dasar
Negara
b.
Mendalami maksud dan isi
Pancasila
c.
Percaya kepada Tuhan
d.
Ikut menjaga persatuan
e.
Ikut memperingati hari
kesaktian pancasila
f.
Menjalankan kewajiban beragama
g.
Hafal pancasila
h.
Menghayati sila-sila dalam
pancasila
4.
Menolong sesama hidup
a. Menghormati orang lain
b. Menuntun orang buta
c. Menunjukkan jalan / tempat kepada
si`pa saja yang memerlukan
d. Menengok teman / orang sakit
e. Mengembalikan barang temannya yang
hilang / tertinggal
f. Mau menepati kedisiplinan
g. Menjaga nama baik orang lain
h. Membagi kepada peminta / fakir
miskin.
5.
Mempersiapkan diri membangun masyarakat
a.
Belajar dengan tekun
b.
Aktif mengikuti kegiatan di
masyarakat
c.
Bergotong royong
d.
Menjaga kebersihan lingkungan
e.
Suka menolong pada orang yang
wajib di tolong
f.
Ikut menunjukkan kebudayaan
g.
Bertanggung jawab atas
perbuatannya
6.
DASA DHARMA PRAMUKA
Pramuka itu :
1. Takwa kepada tuhan Yang Maha Esa
a.
Beribadah
b. Meluhurkan NamaNya
c. Membiasakan diri berdo’a dari awal
sampai akhir kegiatan
d. Memuji kebesaranNya
e. Tidak menduakan Tuhan
f. Mensyukuri rahmatNya
g. Mengagumi ciptaanNya
h. Mempelajari kitab suci
i.
Menghormati orang tua
j.
Menghormati tempat ibadah
k. Menolong tanpa pamrih
l.
Bersikap adil
m. Memberi pertolongan kepada yang
membutuhkan
n.
Menyayangi sesama
o.
Membayar zakat
p.
Menjalankan ajaran-ajaran Tuhan
q.
Menjauhi laranganNya
r.
Tidak membenci orang lain
s.
Bersikap jujur
t.
Menghayati dan mengamalkan Pancasila
2.
Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
a.
Mengagumi segala ciptaan Tuhan
b.
Ikut memelihara kelestarian
alam
c.
Melindungi kelestarian binatang
langka
d.
Melindungi binatang yang
berguna bagi manusia
e.
Tidak menyiksa binatang
f.
Bertakwa kepada tuhan
g.
Tolleransi beragama
h.
Kasih sayang kepada sesama
i.
Mencintai sesama hidup
j.
Dapat bergaul dengan orang lain
dengan baik
k.
Memahami penderitaan orang lain
l.
Menyayangi sesama hidup
m.
Menolong orang lain menurut
kemampuan
n.
Memerikan dana kepada orang
yang memerlukan
o.
Rendah hati dengan hormat
p.
Ikut usaha menghijaukan tanah
yang kosong
q.
Memahami manfaat kehidupan alam
r.
Menanam tumbuh-tumbuhan yang
bermanfaat
s.
Tidak merusak hutan
t.
Mencintai alam
3.
Patriot yang sopan dan kesatria
a.
Memahami makna bendera merah
putih
b.
Mengerti / memahami arti
lambang Negara RI
c.
Mempelajari adat istiadat
bangsa Indonesia
d.
Hafal dan khidmad dalam
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
e.
Memahami kepribadian bangsa
timur
f.
Bersedia untuk berbakti kepada
negara
g.
Tahu dan mengerti etika
pergaulan
h.
Berbakti pada orang tua
i.
Bersikap sesuai dengan martabat
bangsanya
j.
Menjunjung tinggi martabat
bangsa
k.
Bertindak dengan sopan dan
kesatria
l.
Berani karena benar
m.
Siap membela pada kaum yang
lemah
n.
Tidak bersikap omnistis
o.
Menghormati jasa bapak / ibu
guru
p.
Melestarikan nilai-nilai bangsa
indonesia
q.
Mempelajarai dan memahami
kebudayaan Indonesia
r.
Rela berkorban untuk kejayan
negara
s.
Berdedikasi sesuai dengan
profesi
t.
Setiap tindakan dapat menjadi
teladan orang lain
4. Patuh dan suka bermusyawarah
a.
Menghidupkan sistem musyawarah
b.
Bersikap adil dalam mengambil
keputusan
c.
Mau mendengar pandangan orang
lain
d.
Menghargai pendapat orang lain
walau dari orang yang lebih muda
e.
Tidak bersikap semau sendiri
f.
Bersikap disiplin dalam setiap
tindakan
g.
Menggunakan waktu seefisien
mungkin
h.
Tahu menghargai waktu
i.
Menepati janji
j.
Memenuhi kewajiban yang harus
dijalankan
k.
Mentaati segala peraturan /
keputusan yang sudah disepakati
l.
Mentaati peraturan lalu lintas
m.
Memahami pentingnya
bermusyawarah dalam kehidupan
n.
Setia membayar pajak
o.
Membangun sistem bergotong
royong
p.
Mematuhi petunjuk dari orang
tua, selama memang benar
q.
Melaksanakan hukum yang di
tentukan oleh Tuhan
r.
Toleransi terhadap sesama
s.
Mentaati hukum-hukum yang
berlaku dalam masyarakat
5.
Rela menolong dan tabah
a.
Memberikan pertolongan tanpa
pamrih
b.
Menolong pada orang yang
memerlukan
c.
Berjiwa social
d.
Rela memberikan sebagian
hartanya untuk pihak yang memerlukan
e.
Mengutamakan kepentingan orang
lain dari pada kepentingan pribadi.
f.
Dapat memahami dan memberikan
pertolongan menurut kemampuan
g.
Tidak pandang bulu dalam memberikan
pertolongan
h.
Pandtang putus asa
i.
Berani karena benar
j.
Tidak tergoyahkan imannya dalam
kegagalan.
k.
Kuat dalam iman
l.
Tidak enggan dalam menghadapi
kesulitan
m.
Menghormati kaum yang lemah
n.
Berkemauan keras dan berhati
baja
o.
Memahami penderitaan orang lain
p.
Tabah dalam melakukan sesuatu
q.
Berjwa sepi ing pamrih, rame
ing gawe.
6.
Rajin terampil dan Gembira
a.
Giat belajar untuk menuntut
ilmu
b.
Memahami pentingnya menuntut
ilmu untuk hati depan
c.
Rajin belajar tanpa mengingat
usia
d.
Gembira dalam mengerjakan
sesuatu
e.
Riang dalam mengerjakan sesuatu
f.
Memahami arti kerja dalam
perkembangan pribari
g.
Dapat menghargai waktu
h.
Saling bertukar pendapat
i.
Rajin berdiskusi
j.
Selalu bergembira dalam
menghadapi persoalan
k.
Selalu melatih keterampilan
l.
Pantang putus asa
m.
Mengebangkan pribadi sesuai
bakat
n.
Selalu melatih keterampilan
o.
Memahami pentingnya
keterampilan bagi kehidupan
p.
Mempunyai kreatifitas dalam
segala bidang
q.
Menghargai kreatifitas
ketrampilan orang lain.
r.
Mau menerima petunjuk orang
lain dalam keterampilan
s.
Senang membaca buku-buku
tentang keterampilan
7. Hemat cermat dan bersahaja
a.
Dapat menghargai waktu
b.
Selalu tepat waktu yang di
tentukan
c.
Selalu menghemat pengeluaran
d.
Menggunakan uang secara bijak
dan terarah
e.
Tidak pemborosan
f.
Meneliti barang sebelum membeli
g.
Gemar enabung
h.
Teliti dan hati-hati dalam setiap
tindakan
i.
Bertindak bijaksana
j.
Dapat menggunakan barang
miliknya dengan baik.
k.
Berfikir sebelum berbuat
l.
Sederhada dalam berpakaian
n.
Tidak asal mengikuti mode
o.
Sederhana dalam setiap
penampilan
p.
Bersahaja dalam kehidupan
sehari-hari
q.
Mengikuti anjuran pemerintah
pola hidup sederhana
r.
Berbuat tidak berlebihan
s.
Tidak ceroboh
t.
Memahami pentingnya
keprasahajaan dalam hidup
8. Disiplin brani dan setia
a.
Memanfaatkan waktu sebaik
mungkin
b.
Menepati waktu yang telah di tentukan
c.
Belajar dengan tekun
d.
Dapat memagi waktu dengan baik
e.
Tidak bertindak semau sendiri
f.
Memahami pentingnya
mendisiplinkan diri
g.
Selalu tunduk pada perintah
pimpinan
h.
Setia terhadap janji
i.
Bertaqwa kepada tuhan
j.
Setia kepada tugasnya
k.
Berani karena benar
l.
Berani dan tidak putus asa
m.
Bersikap jantan
n.
Tabah dalam menghadapi
rintangan
o.
Berfikir sebelum berbuat
p.
Tidak berjiwa kecil
q.
Berani berbuat, berani
bertanggung jawab
r.
Memahami arti berani dalam
kehidupan
s.
Berani menghadapi tantangan
hidup
9.
bertanggung jwab dan dapat dipercaya
a.
Menyelesaikan tugas dengan baik
b.
Mengawali dan mengakhiri suatu tindakan dengan baik
c.
Semua tindakan dapat
dipertanggung jawabkan
d.
Bertaqwa kepada Tuhan
e.
Bertanggung jawab terhadap
tugasnya.
f.
Memahami tugas-tugas yang harus
diselesaikan
g.
Mengutamakan tugas dari pada
yang lain
h.
Satu kata dalam tindakan
i.
Setia terhadap janji.
j.
Memahami arti kepercayaan orang
/ pihak lain dalam kehidupan
k.
Teguh memegang janji
l.
Setiap perkataannya dapat
dipercaya.
10.
Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
a.
Tidak pernah berjanji dusta
pada pihak mana saja
b.
Yakin bahwa "Ajining
diri ana lati"
c.
Dapat membedakan baik buruknya
perbuatan
d.
Tidak pernah berbohong
e.
Tingkah laku, pembicaraan dan
isi hati merupakan satu perpaduan yang tidak dapat di pisahkan
f.
Menghindarkan diri dari sikap
jahat
g.
Mengehang dalam perkataan kotor
h.
Menghindari perbutan jahat
i.
Mengusahakan selalu berbuat
baik
j.
Sopan santun dalam perkataan
k.
Menghormati orang lain
BAB VII
i.
STRUKTUR ORGANISASI
GUGUS DEPAN
j.
STRUKTUR ORGANISASI
PASUKAN PENGGALANG
BAB VIII
ORGANISASI
PASUKAN PENGGALANG
- Pendahuluan
Gerakan Pramuka menghimpun anggotanya
dalam satuan kwartir. Satuan terdepan dalam pembinaan peserta didik adalah
Gugusdepan. Dalam Gugusdepan yang lengkap terdapat Perindukan Siaga, Pasukan
Penggalang, Ambalan Penegak, Racana Pandega.
Pasukan Penggalang merupakan tempat
pembinaan pramuka berusia 11 sampai 15 tahun yang disebut Pramuka Penggalang.
Pembentukan Pasukan ini bertujuan
untuk memudahkannya himpunan, penggolongan, penggerakan dan pengarahan perserta
didik dalam pelaksanaan kegiatan pramuka Penggalang untuk mencapai tujuan.
- Pasukan Penggalang
1)
Pasukan terdiri paling banyak
40 orang Pramuka penggalang
2)
Pasukan terdiri dari satuan-satuan kecil yang
dinamakan "Regu" yang masing-masing terdiri dari 5 sampai 10 orang
pramuka penggalang.
3)
Pembentukan regu dilakukan oleh
para Pramuka Penggalang sendiri, dan bila diperlukan dapat dibantu oleh para
Pembina dan Pembantu Pembina Pramuka Penggalang
- Pimpinan Pasukan Penggalang
a.
Pasukan Dipimpin
oleh seorang Pembina Penggalang, dibantu oleh dua orang Pembantu Pembina. Pembina
Penggalang sedikitnya berusia 23 tahun, sedangkan pembantunya sedikitnya
berusia 21 tahun.
b.
Pembina dan Pembantu Pembina
Penggalang putra harus dijabat oleh pria, sedang Pembina dan Pembantu Pembina
Penggalang Putri harus dijabat oleh
wanita.
c.
Regu dipimpin oleh seorang
Pemimpin Regu yang dipilih oleh dan dari para anggota regu.
d.
Untut
e.
Oleh dan dari para pemimpin
regu di pilih seorang untuk melaksanakan tugas di tingkat pasukan yang di sebut
pemimpin regu utama di panggil pratama.
f.
Untuk mendidik kepemimpinan
para pramuka penggalang diadakan dewan pasukan penggalang di singkat dewan
penggalang. Yang terdiri dari para pemimpin regu, wakil pemimpin regu, pemimpin
regu utama, pembina penggalang dan para pembantunya.
- Dewan penggalang mengadakan rapat sebulan sekali.
- Ketua dewan penggalang adalah pratama sedangkan jabatan penulis dan bendahara dewan penggalang di pegang secara bergiliran oleh para anggota dewan penggalang itu.
- Dewan penggalang bertugas mengurus dan mengatur kegiatan pasukan penggalang dan menjalankan keputusan yang di ambil oleh dewan penggalang.
- Dalam rapat dewan penggalang,pembina dan pembantunya bertindak sebagai penasehat, pengarah, pembimbing serta mempunyai hak mengambil keputusan terakhir
g.
Untuk membina kepemimpinan dan
rasa tanggung jawab para pramuka penggalang, diadakan dewan kehormatan pasukan
penggalang, yang terdiri dari para pemimpin regu. Pemimpin regu utama, pembina
dan para pembantunya.
1)
Dewan kehormatan penggalang bersidang dalam
hal terjadi peristiwan yang menyangkut tugas dewan kehormatan penggalang.
2)
Hasil putusan sidang dan dilaporkan kepada
pembina gugus depan.
3)
Ketua dan wakil ketua dewan
kehormatan dan penggalang adalah pembina penggalang dan pembantunya, sedangkan
sekretaris dewan adalah salah seorang pemimpin regu.
4)
Dewan kehormatan penggalang
berkewajiban untuk menentukan :
a)
Pelantikan, pembina TKK, tanda
penghargaan, dan lain-lain kepada pramuka penggalang yang berjasa atau
berprestasi;
b)
Pelantikan pemimpin dan wakil pemimpin regu
serta pratama;
c)
Tindakan terhadap pelanggaran
kode kehormatan;
d)
Rehabiitasi anggota pasukan
penggalang.
h.
Anggota yang dianggap melanggar
sebelum diambil tindakan diberi kesempatan untuk membela diri dalam rapat dewan
kehormatan.
- Tugas Pembina Pasukan
Para pembina satuan mempunyai
tugas :
a.
Memimpin para pramuka dalam
satuan masing-masing
b.
Membantu Pembina Gudep dalam rangka pelaksanaan kerja sama dan hubungan
timbal balik antara Gerakan Pramuka dengan Orang Tua / Wali Pramuka
c.
Memberi laporan kepada pembina Gudep tentang perkembangan satuannya
d.
Berusaha meningkatkan kemampuan dan keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan untuk melaksanakan tugasnya
e.
Bertanggung jawab kepada Pembina Gudep
- Hubungan Pembina dengan Peserta Didik
a.
Hubungan antara Pembina dengan
peserta didik adalah seperti hubungan antara :
-
Ibu dengan anaknya
-
Bapak dengan anaknya
-
Guru dengan muridnya
-
Kakak dengan adiknya
-
Sesama sahabat
b.
Hubungan antara pembina dengan
peserta didik diwujudkan dalam panggilan sebagai berikut :
-
Kakak disingkat Kak untuk
Pembina Penggalang dan para Pembantunya
- Tingkat Kecakapan Untuk Pramuka Penggalang
a.
Penggalang Ramu, yaitu tingkatan kecakapan bagi Pramuka Penggalang yang telah
memenuhi syarat kecakapan Umum tingkat Penggalang Ramu
b.
Penggalang Rakit, yaitu tingkatan Kecakapan bagi Pramuka Penggalang Penggalang yang telah memenuhi syarat
kecakapan umum tingkat penggalang Rakit
c.
Penggalang Terap, yaitu tingkatan kecakapan bagi Pramuka Penggalang yang telah
memenuhi Syarat Kecakapan Umum tingkat Penggalang Terap
BAB IX
M E T O D E
A. Metode
Berbagai macam metode dapat digunakan dalam menyajikan kegiatan
untuk Pramuka Penggalang antara lain :
i.
Metode Ceritera. Agar perserta didik
bersemangat melaksanakan kegiatan, maka kegiatan itu harus dibungkus dengan
ceritera. Ceritera ini jangan terlalu fanatis (Khayal), tetapi dicarikan
ceritera yang masuk akal, kalau perlu yang berkaitan dengan ceritera rakyat,
kepahlawanan, dll.
ii.
Metode Pemecahan Masalah, misalnya
dengan pemberian surat
sandi, teka-teki, gladi tangguh dan sebagainya.
iii.
Metode tak terduga (Surprise), yaitu
memberi kegiatan yang tidak diberitahukan sebelumnya misalnya pemberian hadiah
ulang tahun, menguji kecakapan melalui permainan sehingga yang bersangkutan
tidak tahu bahwa ia di uji. Dll
iv.
Metode Lomba, Sekali-kali mengadakan
lomba antar peserta didik secara perorangan, untuk menggairahkan peserta didik.
v.
Metode Kerja Kelompok, yaitu memberikan
pekerjaan kepada tiap kelompok / regu yang di pimpin oleh pemimpin regunya, dan
para pembina mengawasinya.
vi.
Metode Bermain Peran, yaitu peserta
didik diminta untuk memerankan suatu peran dalam atraksi api unggun, atau peran
seorang tokoh dari suatu ceritera. Dll
vii.
Metode Pangkalan, yaitu digunakannya
beberapa pangkalan sebagai tempat untuk memberi latihan-latihan tentang
beberapa hal sekaligus dalam waktu yang sama.
viii.
Metode Belajar Sambil
Melakukan, yaitu peserta didik diberi latihan
sekaligus mempraktekkannya.
ix.
Metode Diskusi, yaitu memperbincangkan
suatu masalah dan berusaha memecahkan masalah itu.
B.
ALAT LATIHAN
Agar latihan dapat menarik dan tidak menjemukan, selain
digunakan berbagai variasi metode dapat pula di gunakan pemakaian berbagai
macam alat.
a.
Di tinjau dari keasliannya,
maka kita dapat membedakan antara benda sesungguhnya dan benda tiruan.
Misalnya peserta diminta untuk melihat binatang yang sesungguhnya di
kebun binatang, melihat bintang di langit di malam hari, melihat
peninggalan-peninggalan sejarah di museum,dll. Tetapi dapat pula mereka
diperlihatkan model saja. Misalnya diperlihatkan tenda tidur, tenda makan,
model menara dan jembatan bambu, dll.
b.
Alat yang beebentuk gambar,
misalnya diperlihatkan dari bebagai macam gambar pesawat terbang, foto dari
berbag`i macam bentuk rak piring, atau rak sepatu, Slide tentang kehidupan anak
yatim yang berhasil dalam hidupnya, dan sebagainya.
c.
Alat yang berbentuk cetakan,
misalnya peserta didik diminta untuk membaca surat
kabar, majalah, buletin, brosur, surat
dan sebagainya. Dapat pula diminta membaca buku-buku perpustakaan.
d.
Tidak pula tertutup
digunakannya bahan alam, yang ada di sekitarnya, misalnya mencari tanaman yang
berguna bagi manusia, membuat herbarium, membuat hasta karya dengan tanah liat
atau kayu, membersihkan air sungai menjadi air minum.
e.
Perlengkapan Pramuka dan
keterampilan, misalnya digunakannya tali, tongkat, peluit, pisau, kompas, peta,
bendera morse, alat masak, bola, dll.
f.
Barang bekas pun dapat
dimanfaatkan untuk latihan Penggalang, misalnya kaleng susu untuk pot tanaman,
kaleng-kaleng mentega untuk timba, bungkus rokok untuk hiasan dinding, dll.
C.
YANG PERLU DIPERHATIKAN
1.
Pembina harus mampu memilih
alat dan metodologi yang tepat untuk menyajikan suatu kegiatan dan mampu
membuat variasi
2.
Usahakan menggunakan alat yang praktis, yang
ada di sekitar tempat latihan, mudah diperoleh, mudah dibawa dan sebagainya.
3.
Pikirkan agar alat yang
digunakan itu siap dipakai pada saatnya dan tidak membahayakan bagi peserta
didik.
BAB X
ASAS, DAN
DASAR SERTA TUJUAN GERAKAN PRAMUKA
(Dari Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Yang Terbaru)
ASAS DAN DASAR
Gerakan pramuka berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945.
TUJUAN
Gerakan Pramukamembina dan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia
dengan tujuan agar mereka menjadi :
k.
Manusia Berkepribadian,
berwatak, dan berbudi luhur, yang :
i.
tinggi mental, moral, budi
pekerti dan kuat keyakinan beragamanya;
ii.
tinggi mkecerdasan dan
keterampilannya;
iii.
kuat dan sehat jasmaninya.
l.
Warga negara Republik Indonesia
yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik
Indonesia, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat
membangun dirinya sendiri serta mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa
dan negara.
BAB XI
ADMINISTRASI PASUKAN PENGGALANG
Tata Usaha
satuan Penggalang :
i.
Buku presensi dan buku iuran
(kedua macam buku ini dapat dijadikan satu buku, tetapi boleh dan dapat terbagi
dua macam buku)
ii.
Buku tabungan
iii.
Buku acara latihan
iv.
Buku catatan rapat (notulen)
v.
Buku inventaris
vi.
Buku Log (berisi catatan
tentang peristiwa peristiwa penting yang mengesankan yang pernah dialami oleh
satuan)
vii.
Buku Kas (Catatan tentang
pemasukan dan pengeluarannya / Penggunaannya)
viii.
Buku catatan pribadi (isinya
tentang bahan-bahan hasil observasi, watak anak didik, hal-hal yang istimewa,
kebaikan dan kekurangan yang ada pada anak didik).
ix.
Buku upacara pelantikan.
x.
Buku renungan
xi.
Buku adat istiadat Pasukan.
Dari buku-buku administrasi itu yang dapat diserahkan kepada
anak-anak/pemuda-pemuda yakni :
a.
Buku Presensi / iuran
b.
Buku kas
c.
Buku tambatan rapat (Notulen)
d.
Buku inventaris
e.
Buku Log
Adapun tentang catatan pribadi itu merupakan buku yang harus
dirahasiakan oleh pembina. Kalau karena sesuatu hal, pembina itu pindah atau
tidak lagi membina pada satuan itu, buku catatan itu seharusnya diserahkan
kepada pembina yang menggantikannya, yang juga harus merahasiakan buku ini.
Contoh Daftar acara
latihan mingguan
|
No
|
Acara latihan
|
Motif latihan
|
Perlengkapan
|
Pimpinan
|
Waktu
|
Ket
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Hari
Tanggal
Jam
|
:…………….
:…………….
:…………….
|
|
Pembina
Penggalang
Harsono
|
DAFTAR ABSENSI & IURAN – TABUNGAN ANAK
|
No
|
Nama Anak Didik
|
Regu
|
Tanggal
|
Tanggal
|
Tanggal
|
||||||
|
Absen
|
Iuran
|
Tabungan
|
Absen
|
Iuran
|
Tabungan
|
Absen
|
Iuran
|
Tabungan
|
|||
|
1
|
Bagus Eko
|
Banteng
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Indra
|
Banteng
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Prajoko
|
Banteng
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Agung
|
Banteng
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Purwadi
|
Banteng
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Ket : - Hadir
a Tidak hadir
s sakit
i ijin
t terlambat
DAFTAR OBSERVASI ANAK DIDIK
|
No
|
Macam
Penilaian
|
Nama Anak
didik yang diobservasi
|
|||||||
|
Surnyoto
|
Purwanto
|
Joko
|
Priyanto
|
Sulistio
|
Rohmad
|
Adam
|
Adam rx
|
||
|
1
|
Ibadah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Kesopanan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Kerajinan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Hemat dan
teliti
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Kerjasama
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Keuletan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Kejujuran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Keprasahajaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Semangat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Tanggung jawab
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11
|
Keberanian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12
|
Keadilan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
13
|
Kesosialan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
14
|
Kecerdasan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
15
|
Kepribadian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
16
|
Keterampinlan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
17
|
…….
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Daftar inventaris
|
No
|
Nama barang
|
Jumlah
|
Penyimpanan
|
Keterangan
|
|
1
|
Bendera Merah
Putih
|
2 buah
|
Di tangan pembina
|
Ukuran 80 x 120 cm
|
|
2
|
Tongkat
|
16 buah
|
Di tangan pemimpin regu
|
Ukuran 30 x 120 cm
|
|
3
|
Pin (patok)
|
55 buah
|
Di tangan
pembina
|
|
|
4
|
Sandaran
bendera
|
8 buah
|
Pada pimpinan
regu
|
Bahan dari
besi
|
|
5
|
Tenda
|
11 buah
|
Pada pembina
|
2 robek
|
|
6
|
|
|
|
|
DAFTAR KETERANGAN PRIBADI
1.
Nama Lengkap :.........................................................................
2.
tanggal Lahir :.........................................................................
3.
tempat Lahir :.........................................................................
4.
Alamat :.........................................................................
5.
Agama :.........................................................................
6.
Nama Orang Tua :.........................................................................
7.
Alamat Orang Tua :.........................................................................
8.
Pekerjaan :.........................................................................
9.
Keterangan orang tua :.........................................................................
10.
Nama yang diikuti :.........................................................................
11.
Pekerjaan :.........................................................................
12.
Jumlah penghuni rumah :.........................................................................
13.
Jumlah saudara :.........................................................................
14.
Putra yang ke :.........................................................................
15.
Saudara yang berkeluarga :.........................................................................
16.
Saudara yang belum
Berkeluarga :.........................................................................
17.
Nama Adik yang terkecil :.........................................................................
18.
Kepandaian Keistimewaan :.........................................................................
19.
Hoby :.........................................................................
20.
Pernah Menderita Sakit :.........................................................................
21.
Pernah Menjadi Anggota
Pramuka :.........................................................................
22.
Gugus Depan :.........................................................................
23.
Cita-cita setelah lulus
Sekolah :.........................................................................
Jerukwangi,…………………….2010
Dibuat dengan sesungguhnya
(ttd)
(Nama Terang)
BAB XII
PERALATAN LATIHAN
Barang-barang
yang minimal diperlukan untukkelancaran latihan Penggalang
m.
Tiang bendera dan alat-allatnya
(tali, katrol, pin)
n.
Bendera Merah Putih
o.
Dasa Dharma dan Pancasila
p.
Buku Renungan
Secara maksimal barang-barang itu harus di tambah dengan :
1.
Tenda dan alat-alatnya (tali,
tongkat, lampu, skop)
2.
Alat-alat masak dalam
perkemahan
3.
Kompas, Peta (Kota, Keresidenan)
4.
Alat-alat perkebunan (cangkul,
sabit, skop, parang, Kampak, dan lain-lain)
5.
Alat-alat Hasta Karya Gergaji,
triplek, palu, catut)
6.
Alat gambar ( Pensil, cat air,
cat minyak)
7.
Alat Musik (Terompet,
harmonika, genderang, gitar, seruling)
8.
Alat-alat olahraga (Bola Volly,
Bola basket, Bola Kecil)
9.
Tali untuk tali temali dan
tongkat
10.
Alat-alat PPPK
11.
Buku-buku bacaan yang bermutu
12.
Buku-buku etika
13.
Bendera negara-negara tetangga
BAB XIII
PROBLEMATIKA DALAM MEMBINA PENGGALANG DAN CARA MENGATASINYA.
a.
Usaha Usha Yang Dapat Dilakukan
Anak-Anak Penggalang Untuk Integrasi Dengan Masyarakat.
1)
Kerja bakti, perkemahan kerja,
penghijauan hutan-hutan gundul, perbaikan jalan-jalan bersama-sama dengan DPU,
bantulah pertolongan bencana alam.
2)
Pengumpulan dana PMI, pengumpulan dana
bencana alam.
3)
Pengaturan lalu lintas, pemadam
kebakaran, penjaga keamanan / kesehatan suatu perayaan / upacara.
4)
Pemeliharaan makam pahlawan,
taman-taman kota, kebersihan / keindahan kota.
5)
Menolong memperingan pekerjaan
rumah tangga dari anggota-anggotanya.
6)
Tiap anggota penggalang pada
suatu saat disuruh membawa batu / bata merah untuk perbaikan jalan / tempat
latihan.
7)
Membuat hasta karya, lalu
dijual hasilnya dimasukkan dalam kas untuk menambah uang kas untuk
keperluan-keperluan dana.
b.
Agar Latihan Pramuka Dapat
Menarik Anak Dan Pemuda
1)
Mengingikutsertakan mereka
dalam memimpin latihan.
2)
Menampung keinginan-keinginan mereka yang
disalurkan lewat Dewan Penggalang untuk kemudian disusun dalam bentuk latihan.
3)
Membungkus acara latihand
dengan variasi dan diberi selingan antara satu mata acara dengan yang lainnya.
4)
Latihan-latihan harus meningkat
maju
5)
Memberi penghargaan kepada
mereka yang giat berusaha serta giat berlatih.
6)
Tidak akan mengumumkan
kesalahan anak / pemuda di muka teman-temannya.
7)
Secepat mungkin melantik
anak/pemuda yang telah selesai menempuh SKU demikian juga yang telah mendapat
TKK, supaya segera diberikan kepada yang berhak.
8)
Setiap kali latihan, berlatih
dengan penuh, jangan sampai ada waktu yang tidak diisi (menganggur)
9)
Suasana latihan diusahakan
dengan penuh gairah, gembira, hidup dan meriah.
c.
Untuk menambah kecakapan tehnis
pada anak/pemuda, dapat berusaha dengan jalan :
1)
Mendatangkan instruktur dari
luar untuk keperluan-keperluan itu.
2)
Membaca sesuatu uraian tentang kecakapan
tertentu secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian berusaha
mempraktekkan.
3)
Menugaskan beberapa anak /
pemuda untuk mempelajarinya, kemudian menugaskan anak itu untuk melatih
teman-temannya sendiri.
4)
Secara berkala diserahkan untuk
mengadakan latihan sendiri dalam satuannya maupun bersama dengan anggota satuan
lain.
d.
Usaha-usaha untuk melatih
tanggung jawab anak/pemuda dapat dapat ditempuh dengan jalan :
1)
Memberikan kesempatan kepada
mereka untuk memimpin salah satu acara dalam latihan, bila perlu menugaskan
mereka itu.
2)
Melaksanakan sistim kerukunan dewan /
musyawarah.
3)
Memberi objek karya biar mereka
merencanakan dan melaksanakan karya itu.
4)
Memberi kesempatan kepada
mereka untuk turut serta mengawasi menyelenggarakan atau menjadi juri pada
suatu perlombaan.
5)
Selalu diusahakan agar hasil
musyawarah kerja dapat diterapkan yang berhubungan dengan latihan untuk
kepentingan satuan.
6)
Memberi tugas tiap-tiap latihan
tertentu supaya dipraktekkan di rumah dan minggu berikutnya disuruh mengulang
dengan teman-temannya.
e.
Tindakan-tindakan yang dapat
dijalankan dalam menghadapi anak/pemuda yang tidak maju/ tidak memenuhi syarat
yang diperlukan dalam mencapai SKU/TKU :
1)
Menunjukkan contoh perbandingan
dengan teman-temannya yang lain yang dapat berhasil dengan baik.
2)
Mendorong semangatnya agar tetap berusaha dan
usaha itu supaya dilakukan dengan baik.
3)
Tetap memberikan jalan/petunjuk
untuk kepentingan pencapaian SKU/TKU.
4)
Diberi soal/pekerjaan supaya
dikerjakan dirumah dan dipelajari benar-benar.
5)
Tetapi kalau mereka telah
berusaha sekuat-kuatnya belum juga memenuhi syarat, anak/ pemuda itu harus
diluluskan juga.
f.
Usaha-usaha dalam bidang
keuangan yang digunakan untuk keperluan latihan-latihan.
1)
Iuran yang diambil dari
anak-anak/pemuda.
2)
Donatur yang di dapat dari orang tua atau
lewat majelis pembimbing gugus depan.
3)
Hasil-hasil dari
anak-anak/pemuda itu sendiri, misalnya :
-
Uang penjualan dari hasi tanaman
satuan
-
Uang penjualan dari hasil hasta karya.
-
Uang hasil kegiatan satuan
(pementasan suatu drama / malam kesenian)
4)
Dengan jalan menabung sedikit
demi sedikit dan di kumpulkan, diadakan
misalnya tiap minggu/bulan dengan sukarela, kemudian uang itu di bankan,
bunganya untuk membeli peralatan latihan.
5)
Mengadakan arisan apabila nanti
ada yang mendapat maka ia di pungut dengan suka rela untuk kas.
g.
Usaha-usaha yang dapat
dilakukan agar pramuka asuhan saudara menepati kode kehormatan.
1)
Salah satu satya atau dharma
dikupas/ diterangkan pada waktu latihan.
2)
Membuat sebuah karangan prosa atau puisi
dengan judul salah satu satya dan dharma, kemudian hasilnya dibaca bersama.
3)
Membuat sandiwara berdasarkan
salah satu satya / dharma.
4)
Secara pribadi menerangkan
kepada mereka dengan contoh yang nyata-nyata terjadi.
5)
Meresapi betul dan mengamalkan
satya dan dharma untuk masing-masing pembina agar dapat dicontoh oleh anak
didiknya.
h.
Bila ada anak/pemuda yang
mundur pelajaran sekolah karena terlalu giat dalam berlatih dan berkumpul dalam
gerakan pramuka maka usaha yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah :
1)
Memberitahukan hal kemunduran
ini pada pembantu-pembantunya diberikan tentang langkah-langkah yang telah
dikerjakan dan yang akan dikerjakan.
2)
Mengharapkan (dalam bentuk nyata mungkin akan
berupa instruksi atau perintah yang tegas, agar anak / pemuda jangan aktif dulu
dalam latihan pramuka).
3)
Keputusan tersebut diatas
disampaikan kepada orang tua mereka dan gurunya di sekolah, dengan harapan agar
keduanya juga akan lebih baik lagi dalam memperhatikan pelajaran mereka.
4)
Menugaskan salah seorang
temannya yang lebih maju/pandai (diusahakan yang sekelas), dan yang paling
akrab dengan mereka untuk belajar bersama, dalam pengertian akan membimbing
mereka itu.
5)
Diberi nasihat agar mereka
insaf benar jangan sampai mereka ketinggalan pelajaran sekolah, diberi nasehat
secara pribadi saja.
BAB XIV
Upacara dalam satuan pramuka
penggalang
a.
Macam Upacara dalam pasukan
penggalang meliputi :
i.
Upacara pembukaan latihan
ii.
Upacara penutupan latihan
iii.
Upacara pelantikan
iv.
Upacara kenaikan tingkat
v.
Upacara pemberian tanda
kecakapan khusus
vi.
Upacara pindah ke golongan
penegak
b.
Jalannya upacara pembukaan
latihan pasukan penggalang adalah sebagai berikut :
i.
Pemeriksaan kebersihan pakaian
dan kerapian anggota oleh pratama
ii.
Regu petugas menyiapkan perlengkapan upacara.
iii.
Pratama mengungpulkan
anggotanya untuk membentuk angkare di hadapan tiang bendera.
iv.
Pratama mengecek
petugas-petugas upacara, sesudah beres, kemudian menjemput pembina penggalang.
v.
Pembina upacara (pembina
penggalang) mengambil tempat di hadapan pasukan, para pembantu pembina berada
di belakang pembina upacara dalam bentuk bersaf.
vi.
Sesudah pemimpin penghormatan,
pratama menyerahkan asukan kepada pembina upacara kemudian kembali ke regunya.
vii.
Pengibaran sang merah putih
oleh petugas.
viii.
Pembina upacara membaca
pancasila, ditirukan oleh anggota pasukan.
ix.
Pembacaan dhasa darma.
x.
Kata pengantar dari pembina
upacara tentang tema latihan dan sebagainya.
xi.
Pembina upacara memimpin doa
menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
xii.
Pasukan diserahkan kepada
pratama untuk melanjutkan acara.
xiii.
Pratama memimpin penghormatan
pasukan kepada pembina upacara.
xiv.
Pembina upacara mengucapkan
terima kasih kepada para pembantunya, terus siap melaksanakan latihan
xv.
Pratama membubarkan barisan,
terus siap mengikuti kegiatan latihan.
c.
Jalannya upacara penutupan
latihan pasukan penggalang adalah sebagai berikut :
i.
Kerapian setiap anggota
ii.
Pratama memanggil anggota
pasukan untuk membentuk formasi angkare menghadap tiang bendera.
iii.
Pembina penggalang dijemput
pratama, kemudian mengambil tempat di depan pasukan, diikuti para pembantu
pembina .
iv.
Sesudah memimpin penghormatan
pratama menyerahkan pasukan kepada pembina upacara, kemudian kembali ke
regunya.
v.
Petugas bendera menurunkan sang
merah putih untuk di simpan. Pembina upacara memimpin penghormatan.
vi.
Pengumuman tentang regu petugas
upacara untuk latihan yang akan datang, dilanjutkan penyerahan pasukan kepada
pratama.
vii.
Pembina memimpin doa.
viii.
Pratama maju selangkah, lalu
memimpin penghormatan pasukan kepada pembina penggalang, kemudian membubarkan
pasukan.
ix.
Pembina penggalang mengucapkan
terima kasih kepada pembantunya, terus bubar.
d.
Upacara pelantikan calon
penggalang menjadi penggalang dilaksanakan sebagai berikut :
i.
Setelah acara berdoa pada calon
penggalang akan dilantik diantar oleh pemimpin regunya ke hadapan pembina
penggalang, kemudian pengantar kembali ke regunya.
ii.
Penggalang yang sudah dilantik
maju satu langkah.
iii.
Tanya jawab tentang syarat
kecakapan khusus antara pembina dan calon yang akan dilantik.
iv.
Calon yang akan dilantik
berdoa, diikuti oleh anggota pasukan, dipimpin oleh pembina.
v.
Sang merah putih dibawa petugas
ke sebelah depan dari pembina penggalang.
vi.
Calon secara sukarela
mengucapkan janji Tri Satya dengan tangan kanannya memegang ujung sang merah
putih di tempelkan pada dada kiri tepat dengan jantungnya.
vii.
Pada waktu ucapan janji,
anggota pasukan menghormat, dipimpin oleh pratama.
viii.
Penyematan tanda-tanda disertai
nasihat dari pembina penggalang.
ix.
Pratama maju selangkah lalu
memimpin penghormatan kepada penggalang yang baru dilantik, diteruskan
pamberian ucapan selamat dari anggota pasukan.
x.
Pemimpin regu menjemput
anggotanya yang baru dilantik.
xi.
Pembina menyerahkan pasukan
kepada pratama untuk meneruskan acara latihan.
xii.
Pratama memimpin penghormatan pasukan
kepada pembina penggalang.
e.
Untuk upacara kenaikan tingkat
dari penggalang ramu ke penggalang rakit, atau dari penggalang rakit ke
penggalang terap, diatur sebagai berikut :
i.
Dilakukan serangkaian dengan
upacara pembukaan latihan.
ii.
Penggalang yang akan naik tingkat mengambil
tempat berhadapan dengan pembina.
iii.
Penggalang rakit / penggalang
terap maju selangkah.
iv.
Tanya jawab tentang syarat
kecakapan khusus yang telah diselesaikan, antara pembina dan penggalang yang
naik tingkat.
v.
Petugas bendera membawa sang
merah putih kesebelah kanan depan dari pembina penggalang.
vi.
Waktu sang merah putih memasuki
tempat upacara, anggota pasukan menghormat, di pimpin oleh pratama atau
petugas.
vii.
Penggalang yang akan naik
tingkat mengulang ucapan janji trisatya, di tuntun oleh pembina penggalang.
viii.
Pada waktu trisatya diucapkan,
anggota pasukan memberi hormat, dipimpin oleh pratama atau petugas.
ix.
Penghormatan pasukan kepada
yang baru naik tingkat dipimpin oleh pratama atau petugas, dilanjutkan dengan
pemberian selamat dari anggota pasukan, kemudian kembali ke tempat
masing-masing, termasuk penggalang yang naik tingkat.
x.
Pembina penggalang memimpin dan
doa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
xi.
Pratama maju selangkah, lalu
memimpin penghormatan kepada pembina upacara, kemudian membubarkan barisan.
xii.
Pembina mengucapkan terima
kasih kepada pembantunya, diteruskan dengan acara latihan.
f.
Kepada penggalang yang telah
memenuhi syarat kecakapan khusus dalam rangkaian upacara pembukaan latihan
dengan cara sebagai berikut:
i.
Penggalang akan menerima tanda
kecakapan khusus mengambil tempat berhadapan dengan pembina upacara (pembina
penggalang)
ii.
Para penggalang yang telah memiliki tanda kecakapan khusus maju
selangkah.
iii.
Tanya jawab tentang
syarat-syarat kecakapan khususnya yang dipenuhinya, antara pembina dengan
penggalang yang telah menerima tanda itu.
iv.
Penyematan tanda kecakapan
khusus oleh pembina ucapara, disertai nasihat seperlunya dan diberikan surat keterangan.
v.
Pratama atau petugas memimpin
penghormatan kepada penggalang yang menerima tanda kecakapan khusus,
dilanjutkan dengan pemberian selamat oleh anggota pasukan, kemudian semua
kembali ke tempat semula.
vi.
Pembina upacara menyerahkan
pasukan kepada pratama untuk meneruskan acara.
vii.
Pratama maju selangkah lalu
memimpin penghormatan kepada pembina upacara.
viii.
Pembina upacara mengucapkan
terima kasih kepada pembantunya, dilanjutkan dengan acara latihan.
ix.
Pratama membubarkan barisan.
g.
Bagi penggalang yang berusia 16
tahun harus dipindahkan ke golongan pramuka penegak, dengan cara sebagai
berikut :
i.
Dilaksanakan dalam rangkaian
upacara pembukaan latihan pasukan penggalang dan upacara pembukaan latihan
ambalan penegak.
ii.
Penggalang yang akan di pindah
golongan mengambil tempat berhadapan dengan pembina upacara (pembina
penggalang).
iii.
Nasihat dan penjelasan dari
pembina upacara, bahwa kepindahannya itu bukan karena kecakapannya tetapi
karena usia dan perkembangan jiwanya.
iv.
Penggalang yang akan pindah
golongan minta diri kepada anggota pasukannya.
v.
Pembina mengantar penggalang
yang bersangkutan ke ambalan penegak.
vi.
Serah terima anggota antara
pembin` penggalang dan pembina penegak.
vii.
Pembina penggalang kembali ke
pasukan untuk melanjutkan acara latihan.
viii.
Acara penerimaan di ambalan
disesuaikan dengan adat yang berlaku di dalam ambalan itu.
ix.
Anggota baru diserahkan kepada
sangga yang akan menerimanya.
x.
Pembina penegak menyerahkan
kembali ambalan kepada pradana untuk meneruskan acara latihan.
BAB XV
syarat kecakapan umum penggalang
b.
Penggalang Ramu
i.
Rajin dan giat mengikuti
latihan penggalang sekurang-kurangnya 6 kali laihan berturut-turut.
ii.
Hafal dan mengerti isi dhasa
darma dan trisatya.
iii.
Dapat memberi salam pramuka dan
tahu maksud serta penggunaannya.
iv.
Tahu arti lambang gerakan
pramuka.
v.
Tahu cara menggunakan bendera
kebangsaan indonesia,
tahu sejarah serta tahu arti kiasan warna-warnanya.
vi.
Dapat dengan hafal menyanyikan
lagu kebangsaan indonesia
raya bait pertama di depan pasukan penggalang atau di depan pendengar lain, dan
tahu sikap yang harus dilakukan jika lagu kebangsaan sedang diperdengarkan atau
dinyanyikan pada suatu upacara.
vii.
Tahu sejarah lagu kebangsaan indonesia
raya.
viii.
Hafal pancasila dan artinya.
ix.
Biasa berbahasa indonesia
diwaktu mengikuti pertemuan-pertemuan penggalang.
x.
Tahu struktur organisasi dan
tanda-tanda pengenal dalam gugus depan.
xi.
Dapat berbaris.
xii.
Dapat menunjukkan sedikitnya 8
arah mata angin.
xiii.
Dapat membaca jam dengan
menggunakan kompas.
xiv.
Dapat membuat dan menggunakan
simpul mati, simpul hidup, simpul anyam, simpul tiang, simpul pangkal, dan
dapat menyusuk tali.
xv.
Dapat menyampaikan berita
secara lisan.
xvi.
Dapat mengumpulkan keterangan
untuk memperoleh pertolongan pertama pada kecelakaan dan dapat melaporkannya
kepada dokter, rumah sakit, pamong praja, polisi atau keluarga korban.
xvii.
Selalu berpakaian rapi dan
memelihara kesehatan badan.
xviii.
Untuk puteri dapat mengatur
meja makan atau menghidangkan makanan kecil dan minuman pada tamu.
xix.
Untuk putra dapat membuat 2
macam hasta karya dengan macam bahan yang berbeda.
xx.
Memiliki buku tabanas, buku
tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar.
xxi.
Setia membayar iuran kepada
gugus depannya sedapat mungkin di ambil dari apa yang diperoleh dari usahanya
sendiri.
xxii.
b.
Untuk penggalang yang beragama
Islam :
i.
Dapat mengucapkan kalimat syahadat dan tahu
artinya.
ii.Mengerti rukun iman dan
rukun islam.
iii.Melakukan sholat berjamaah
c.
Untuk penggalang yang beragama
katholik :
i.
Dapat mengucapkan doa harian
dan doa rosario
dan tahu artinya.
ii.
Mengikuti misa kudus dan putra
dapat dapat menjadi pelayan misa, putri dapat menghias altar.
iii.
Dapat menyanyikan 3 buah lagu
gereja.
d.
Untuk penggalang yang beragama
protestan.
i.
Dapat dengan hafal menyanyikan
salah satu lagu kristen.
ii.
Dapat menceritakan 2 hikayat
dari al kitab.
iii.
Dapat mengucapkan dan
menggunakan doa sederhana pada kesempatan tertentu.
iv.
Tahu hari-hari raya kristen.
e.
Untuk penggalang yang beragama
hindu.
i.
Hafal panca malia yadnya.
ii.
Hafal sadripu dan sadatatayi.
f.
Untuk penggalang yang beragama
budha.
i.
Dapat melakukan kebaktian agama
budha dengan parita pancasila, parita puja dan parita budha nassati.
ii.
Hafal vihara gita wajib, tri
ratna dan dalam suci waisak.
g.
Penggalang Rakit
i.
Rajin dan giat mengikuti
latihan pasukan sebagai penggalang ramu sekurang-kurangnya 10 kali laihan
berturut-turut.
ii.
Bersungguh-sungguh mengamalkan
dasa dharma dan trisatya.
iii.
Tahu struktur dan tanda-tanda
dalam gerakan pramuka.
iv.
Tahu arti lambang negara
republik indonesia.
v.
Tahu hari-hari nasional dan
sejarahnya, sedikitnya 3 orang pahlawan nasional.
vi.
Tahu susunan pemerintahan
daerah tingkat II sampai ke desa, dan tahu nama dan alamat kepala desa dan
beberapa tokoh masyarakat lain di sekitar tempat tinggalnya.
vii.
Pernah ikut serta kerja bhakti
gotong royong yang ditugaskan oleh pembinanya, di sekolah, dikampungnya, di
tempat ibadah, atau di tempat lain.
viii.
Dapat dengan hafal menyanyikan
di muka pasukan penggalang atau dimuka pendengar lain, lagu-lagu sang merah
putih (ibu sud), bagimu negeri, maju tak gentar, satu nusa satu bangsa, dari
barat sampai ke timur, dan sedikitnya satu lagu daerahtempat tinggalnya.
ix.
Dapat menyajikan satu macam
kegiatan seni budaya.
x.
Tahu adat sopan santun
pergaulan indonesia.
xi.
Dapat memimpin barisan pramuka.
xii.
Dapat menerima dan mengirim
berita dengan isyarat morse atau isyarat semaphore.
xiii.
Dapat memperbaiki kerusakan
kecil pada alat rumah tangga atau pakaian.
xiv.
Dapat memberi pertolongan
pertama pada kecelakaan ringan.
xv.
Jika di sekitar tempat
tinggalnya ada pesawat telepon tahu cara menggunakannya.
xvi.
Tahu bahan-bahan makanan yang
bernilai gizi.
xvii.
Tahu beberapa macam penyakit
menular.
xviii.
Memelihara kebersihan salah
satu ruangan dan halaman di rumahnya disekolah, tempat ibadah atau di tempat
lain.
xix.
Melakukan salah satu cabang
olah raga atletik atau salah satu cabang olah raga renang.
xx.
Dapat memasak makanan dalam
perkemahan sedikitnya 5 orang.
xxi.
Hemat cermat dengan segala
miliknya.
xxii.
Memiliki buku tabanas, buku
tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar, dan sudah menabung secara teratur
dalam buku tabungan itu selama sekurang-kurangnya selama 8 minggu sejak menjadi
penggalang ramu.
xxiii.
Setia membayar uang iuran
kepada gugus depannya sedapat-dapatnya dengan uang yang diperolehnya dari
usahanya sendiri.
xxiv.
Pernah memelihara sedikitnya
satu macam tanaman berguna atau sedikitnya satu jenis binatang ternak dalam
kurang lebih 2 bulan.
xxv.
Dapat membuat peta lapangan
dengan sket pemandangan.
xxvi.
Sudah pernah berkemah
sekurang-kurangnya 4 hari berturut-turut.
xxvii.
1)
untuk penggalang yang beragama
islam
b)
Tahu riwayat singkat Nabi
Muhammad SAW.
2)
Untuk penggalang yang beragama
katholik
a)
Mengetahui siapa kristus.
b)
Dapat berdoa dengan
kata-katanya sendiri.
c)
Dapat menyanyikan lagu-lagu
gereja.
3)
Untuk penggalang yang beragama
protestan.
a)
Mengetahui makna doa dan dapat
menguraikan beberapa nyanyian yang dikenalnya.
b)
Mengetahui pebagian al kitab,
dan dapat menguraikan secara singkat isi dari dua buku di dalam perjanjian lama
dan perjanjian baru.
c)
Hafal dan mengerti hukum dan 10
penyuruhan.
d)
Tahu riwayat seorang hamba
Allah dalam al kitab.
4)
Untuk penggalang yang beragama
hindu.
a)
Hafal pranavama.
b)
Hafal asta brata.
5)
Untuk penggalang yang beragama
Budha.
a)
Dapat melakukan kebaktian
hari-hari suci agama budha dan tahu artinya.
b)
Hafal parita wajib, terimalah
karmamu, dan Guttama waveka vimama gatha.
h.
Penggalang terap
i.
Rajin dan giat mengikuti
latihan pasukan sebagai penggalang rakit sekurang-kurangnya 10 kali latihan.
ii.
Tahu arti dan sejarah sumpah pemuda.
iii.
Dengan sungguh-sungguh
mengamalkan pancasila.
iv.
Mengetahui tentang perserikatan
bangsa-bangsa.
v.
Tahu tempat-tempat penting di
kecamatan tempat tinggalnya.
vi.
Membuktikan perhatiannya
terhadap industri di yang ada di sekitarnya atau melatih diri dalam suatu
kerajinan tangan yang berguna.
vii.
Sekurang-kurangnya dua kali
pernah ikut kerja bakti gotong royong yang ditugaskan oleh pembinanya di
sekolah, kampung, tempat ibadah atau di tempat-tempat lain, atau pernah
membantu lembaga seperti PMI, LSD, PUSKESMAS, PKK, Karang Taruna atau lain
sebagainya.
viii.
Dapat menaksir jarak, luas,
isi, berat, kecepatan, suhu, dan sebagainya.
ix.
Dapat membuat peta pita.
x.
Dapat menentukan arah mata
angin tanpa menggunakan kompas.
xi.
Dapat merencanakan dan
mempersiapkan rapat kecil.
xii.
Dapat mebuat alat rumah tangga
yang sedrhana.
xiii.
Dapat memberi pertolongan
pertama pada kecelakaan.
xiv.
Dapat mengetrapkan pengetahuan
tentang kesehatan dan kebersihan kamar mandi, cuci kakus di perkemahan, rumah,
atau tempat lain.
xv.
Melakukan salah satu cabang
olahraga atletik atau salah satu olah raga renang dan cabang olahraga lain,
serta mengetahui peraturan permainannya.
xvi.
Memiliki buku tabanas, buku
tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar dan sudah menabung uang secara
teratur dalam buku tabungan itu sekurang-kurangnya selama minggu sejak menjadi
penggalang rakit, yang sebagian dari pada uang tabungan itu diperolehnya dari
usahanya sendiri.
xvii.
Setia membayar uang iuran
kepada gugusdepannya degan uang yang seluruhnya atau sebagian diperoleh dari
usahanya sendiri.
BABXVI
BEBERAPA
KECAKAPAN PRAMUKA
A.
Bentuk - bentuk barisan
|
Bentuk Barisan Dalam Gerakan Pramuka
|
|
Berdasarkan PP tentang
Upacara dalam Gerakan Pramuka bahwa semua upacara dalam Gerakan Pramuka
mengandung unsur-unsur pokok tertentu, salah satunya adalah bentuk barisan
menurut golongannnya ( S, G, T dan D )
Bentuk barisan yang
digunakan oleh peserta upacara ( Pada Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan
) selalu disesuaikan dengan perkembangan jiwa peserta didik. Bentuk barisan
tersebut adalah sbb :
1) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Siaga
adalah lingkaran, karena perhatian dan perkembangan jiwanya masih
terpusat pada orang tua/ Keluarga atau Pembina.
![]()
2) Bentuk barisan upacara di
satuan Pramuka Penggalang adalah bentuk angkare, karena perhatian dan
perkembangan jiwanya telah mulai terbuka.
![]()
3) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka
Penegak dan Pramuka Pandega adalah bersaf, karena perhatian dan perkembangan
jiwanya sudah terbuka luas.
![]()
4)
Jika peserta
upacara itu terdiri dari dua golongan atau lebih, maka bentuk barisan yang
digunakan ditentukan oleh pimpinan upacara atau pengatur upacara sesuai
dengan keadaan setempat, Seperi Upacara pindah golongan, upacara peringatan
hari besar/ hari Pramuka dll.
|
B.PBB
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada
dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk
baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan
Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara
yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI
Apa itu Baris Berbaris ?
1. Baris Berbaris
a. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
b. Maksud dan tujuan
1) Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
2) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4) Yang dimaksud rasa disiplin adal`h mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
1. Aba-aba
a. Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
b. Macam aba-aba
Ada tiga macam aba-aba yaitu :
1) Aba-aba petunjuk
2) Aba-aba peringatan
3) Aba-aba pelaksanaan
1. Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan.
Contoh:
a) Kepada Pemimpin Upacara-Hormat - GERAK
b) Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK
2. Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
Contoh:
a) Lencang kanan - GERAK
(bukan lancang kanan)
b) Istirahat di tempat - GERAK (bukan ditempat istirahat)
3. Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba pelaksanan yang dipakai ialah:
a) GERAK
b) JALAN
c) MULAI
a. GERAK: adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain.
Contoh:
-jalan ditempat -GERAK
-siap -GERAK
-hadap kanan -GERAK
-lencang kanan -GERAK
b. JALAN: adalah utuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat.
Contoh:
-haluan kanan/kiri - JALAN
-dua langkah ke depan -JALAN
-satu langkah ke belakang - JALAN
Catatan:
Apabila gerakan meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba harus didahului dengan aba-aba peringatan –MAJU
Contoh:
-maju - JALAN
-haluan kanan/kiri - JALAN
-hadap kanan/kiri maju - JALAN
-melintang kanan/kiri maju -J ALAN
Tentang istilah: “maju”
· Pada dasarnya digunakan sebagai aba-aba peringatan terhadap pasukan dalam keadaan berhenti.
· Pasukan yang sedang bergerak maju, bilamana harus berhenti dapat diberikan aba-aba HENTI.
Misalnya:
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju - JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju-J@LAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Balik kana maju/JALAN, karena dapat pula diberikan aba-aba : balik kana henti-GERAK.
Tidak dapat diberikan aba-aba langkah tegap maju JALAN, aba-aba belok kanan/kiri maju-JALAN terhadap pasukan yang sedang berjalan dengan langkah biasa, karena tidak dapat diberikan aba-aba langkah henti-GERAK, belok kanan/kiri-GERAK.
Tentang aba-aba : “henti”
Pada dasarnya aba-aba peringatan henti digunakan untuk menghentikan pasukan yang sedang bergerak, namun tidak selamanya aba-aba peringatan henti ini harus diucapkan.
Contoh:
Empat langkah ke depan –JALAN, bukan barisan – jalan. Setelah selesai pelaksanaan dari maksud aba-aba peringatan, pasukan wajib berhenti tanpa aba-aba berhenti.
c. MULAI : adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Contoh:
-hitung -MULAI
-tiga bersaf kumpul -MULAI
4. Cara memberi aba-aba
a) Waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba harus berdiri dalam sikap sempurna dan menghadap pasukan, terkecuali dalam keadaan yang tidak mengijinkan untuk melakukan itu.
b) Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi aba-aba, maka pemberi aba-aba terikat pada tempat yang telah ditentukan untuknya dan tidak menghadap pasukan.
Contoh: Kepada Pembina Upacara – hormat – GERAK
Pelaksanaanya :
· Pada waktu memberikan aba-aba mengahdap ke arah yang diberi hormat sambil melakukan gerakan penghormatan bersama-sama dengan pasukan.
· Setelah penghormatan selesai dijawab/dibalas oleh yang menerima penghormatan, maka dalm keadaan sikap sedang memberi hormat si pemberi aba-aba memberikan aba-aba tegak : GERAK dan kembali ke sikap sempurna.
c) Pada taraf permulaan aba-aba yang ditunjukan kepada pasukan yang sedang berjalan/berlari, aba-aba pelaksanaan gerakannya ditambah 1 (satu) langkah pada waktu berjala, pada waktu berlari ditambah 3 (tiga) langkah.
· Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dijatuhkan pada kaki kanan ditambah 2 (dua) langkah untuk berjalan / 4 (empat) langkah untuk berlari.
d) Aba-aba diucapkan dengan suara nyaring-tegas dan bersemangat.
e) Aba-aba petunjuk dan peringatan pada waktu pengucapan hendaknya diberi antara.
f) Aba-aba pelaksanaan pada waktu pengucapan hendaknya dihentakkan.
g) Antara aba-aba peringatan dan pelaksanaan hendaknya diperpanjang disesuaikan dengan besar kecilnya pasukan.
h) Bila pada suatu bagian aba-aba diperlukan pembetulan maka dilakukan perintah ULANG !
Contoh: Lencang kanan = Ulangi – siap GERAK
Apa itu Baris Berbaris ?
1. Baris Berbaris
a. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
b. Maksud dan tujuan
1) Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
2) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4) Yang dimaksud rasa disiplin adal`h mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
1. Aba-aba
a. Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
b. Macam aba-aba
Ada tiga macam aba-aba yaitu :
1) Aba-aba petunjuk
2) Aba-aba peringatan
3) Aba-aba pelaksanaan
1. Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan.
Contoh:
a) Kepada Pemimpin Upacara-Hormat - GERAK
b) Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK
2. Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
Contoh:
a) Lencang kanan - GERAK
(bukan lancang kanan)
b) Istirahat di tempat - GERAK (bukan ditempat istirahat)
3. Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba pelaksanan yang dipakai ialah:
a) GERAK
b) JALAN
c) MULAI
a. GERAK: adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain.
Contoh:
-jalan ditempat -GERAK
-siap -GERAK
-hadap kanan -GERAK
-lencang kanan -GERAK
b. JALAN: adalah utuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat.
Contoh:
-haluan kanan/kiri - JALAN
-dua langkah ke depan -JALAN
-satu langkah ke belakang - JALAN
Catatan:
Apabila gerakan meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba harus didahului dengan aba-aba peringatan –MAJU
Contoh:
-maju - JALAN
-haluan kanan/kiri - JALAN
-hadap kanan/kiri maju - JALAN
-melintang kanan/kiri maju -J ALAN
Tentang istilah: “maju”
· Pada dasarnya digunakan sebagai aba-aba peringatan terhadap pasukan dalam keadaan berhenti.
· Pasukan yang sedang bergerak maju, bilamana harus berhenti dapat diberikan aba-aba HENTI.
Misalnya:
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju - JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju-J@LAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Balik kana maju/JALAN, karena dapat pula diberikan aba-aba : balik kana henti-GERAK.
Tidak dapat diberikan aba-aba langkah tegap maju JALAN, aba-aba belok kanan/kiri maju-JALAN terhadap pasukan yang sedang berjalan dengan langkah biasa, karena tidak dapat diberikan aba-aba langkah henti-GERAK, belok kanan/kiri-GERAK.
Tentang aba-aba : “henti”
Pada dasarnya aba-aba peringatan henti digunakan untuk menghentikan pasukan yang sedang bergerak, namun tidak selamanya aba-aba peringatan henti ini harus diucapkan.
Contoh:
Empat langkah ke depan –JALAN, bukan barisan – jalan. Setelah selesai pelaksanaan dari maksud aba-aba peringatan, pasukan wajib berhenti tanpa aba-aba berhenti.
c. MULAI : adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Contoh:
-hitung -MULAI
-tiga bersaf kumpul -MULAI
4. Cara memberi aba-aba
a) Waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba harus berdiri dalam sikap sempurna dan menghadap pasukan, terkecuali dalam keadaan yang tidak mengijinkan untuk melakukan itu.
b) Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi aba-aba, maka pemberi aba-aba terikat pada tempat yang telah ditentukan untuknya dan tidak menghadap pasukan.
Contoh: Kepada Pembina Upacara – hormat – GERAK
Pelaksanaanya :
· Pada waktu memberikan aba-aba mengahdap ke arah yang diberi hormat sambil melakukan gerakan penghormatan bersama-sama dengan pasukan.
· Setelah penghormatan selesai dijawab/dibalas oleh yang menerima penghormatan, maka dalm keadaan sikap sedang memberi hormat si pemberi aba-aba memberikan aba-aba tegak : GERAK dan kembali ke sikap sempurna.
c) Pada taraf permulaan aba-aba yang ditunjukan kepada pasukan yang sedang berjalan/berlari, aba-aba pelaksanaan gerakannya ditambah 1 (satu) langkah pada waktu berjala, pada waktu berlari ditambah 3 (tiga) langkah.
· Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dijatuhkan pada kaki kanan ditambah 2 (dua) langkah untuk berjalan / 4 (empat) langkah untuk berlari.
d) Aba-aba diucapkan dengan suara nyaring-tegas dan bersemangat.
e) Aba-aba petunjuk dan peringatan pada waktu pengucapan hendaknya diberi antara.
f) Aba-aba pelaksanaan pada waktu pengucapan hendaknya dihentakkan.
g) Antara aba-aba peringatan dan pelaksanaan hendaknya diperpanjang disesuaikan dengan besar kecilnya pasukan.
h) Bila pada suatu bagian aba-aba diperlukan pembetulan maka dilakukan perintah ULANG !
Contoh: Lencang kanan = Ulangi – siap GERAK
- Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar
a.
Sikap sempurna
Aba-aba
: Siap - GERAK. Pelaksanaanya : pada aba-aba pelaksanaan badan/tubuh berdiri
tegap, ke dua tumit rapat, ke dua telapak kaki membentuk sudut 60…, lutut lurus
paha dirapatkan, berat badan di atas ke dua kaki, perut ditarik sedikit, dada
dibusungkan, pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak dinaikkan, lengan
rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak
terpaksa rapat pada paha, ibu jari segaris dengan jahitan celana, leher lurus,
dagu ditarik, mulut ditutup, gigi dirapatkan, mata memandang tajam ke depan,
benafas sewajarnya.
b.
Istirahat
Aba-aba
istirahat ditempat – GERAK
1)
Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke samping kiri dengan jarak
sepanjang telapak kaki (30cm)
2)
Ke dua belah tangan dibawa ke belakang dan dibawah pinggang, punggung tangan
kanan di atas telapak tangan kiri, tangan kanan dikepalkan dengan dilemaskan,
tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk,
ke dua tangan dilemaskan, badan dapat bergerak.
Catatan:
a)
Pasukan dalam keadaan istirahat di tempat, pemimpin atau atasan lainnya datang
untuk memberikan perhatian atau petunjuk-petunjuk, maka atas ucapan
pemimpin/atasan dengan menggunakan kata Perhatian pasukan segera mengambil
sikap sempurna tanpa mengucapkan kata siap, kemudian mengambil sikap istirahat.
b)
Pada kata perhatian, selesai atau sekian, pasukan mengambil sikap sempurna
tanpa didahului aba-aba kemudian kembali ke sikap istirahat di tempat.
c)
Maksud dari sikap siap terakhir ini adalah sebagai jawaban tanpa suara, bahwa
petunjuk-petunjuk yang diberikan akan dijalankan
c.
Lencang kanan/kiri : (hanya dalam bentuk bersaf)
Aba-aba
: Lencang kanan/kiri - GERAK
Pelaksanaannya:
Gerakan
ini dijalankan dalam sikap sempurna.
1)
Pada aba-aba pelaksanaan, saf depan mengangkat lengan kanan/kiri ke samping,
jari-jari kanan/kiri menggenggam menyentuh bahu kanan/kiri orang yang berada di
sebelah kana/kirinya, punggung tangan menghadap ke atas, bersamaan dengan ini
kepala dipalingkan ke kanan/kiri tidak berubah tempat masing-masing meluruskan
diri
2)
Saf tengah dan saf belakang kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan dengan
pandangan mata, ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat
tangan.
3)
Penjuru saf tengan dan belakang mengambil antar ke depan 1 (satu) lengan
kanan/kiri ditambah 2 (dua) kepalan tangan dan setelah lurus menurunkan tangan
kanan/kiri tanpa menunggu aba-aba.
4)
Pada aba-aba tegak-GERAK semua dengan serentak menurunkan lengan dan
memalingkan muka ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.
5)
Pada waktu pemimpin pasukan memberikan aba-aba lencang kanan/kiri dan barisan
sedang meluruskan safnya, Pemimpin pasukan yang berada dalam barisan itu
memberikan kelurusan saf dari sebelah kanan/kiri pasukan dengan menitikberatkan
pada kelurusan tumit (bukan ujung depan sepatu).
Catatan:
a)
Untuk menghindarkan keributan pada waktu mengangkat lengan kanan/kiri,
hendaknya lengan diluruskan melalui belakang punggung orang yang berada di
samping, kalau jarak 1 (satu) lengan tidak cukup. Dengan demikian dihindarkan
gerakan seolah-olah meninju rekannya yang berada di smaping.
b)
Kelurusan barisan dilihat dari tumit.
d.
Setengah lencang kanan/kiri
Aba-aba
: Setengah lencang kanan/kiri - GERAK
Pelaksanaannya:
Seperti
pada waktu lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang (bertolak
pinggang) dengan siku menyentuh lengan orang yang berdiri disebelahnya,
pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang pinggang, empat jari
lainnya rapat pada pinggang sebelah depan (khusus saf depan). Pada aba-aba
tegak GERAK dengan serentak menurunkan lengan sambil memalingkan muka ke depan
dan berdiri dalam sikap sempurna.
e.
Lencang depan (hanya dalam bentuk berbanjar)
Aba-aba
: Lencang depan - GERAK
Pelaksanaannya:
1)
Penjuru tetap sikap sempurna : nomor dua dan seterusnya meluruskan ke depan
dengan mengangkat tangan dengan jarak satu lengan ditambah dua kepalan tangan.
2)
Saf depan banjar tengah dan kiri mengambil antara satu lengan ke samping kanan,
setelah lurus menurunkan tangan dan memalingkan kepala kembali ke depan dengan
serentak tanpa menunggu aba-aba.
3)
Banjar tengah/kiri tanpa mengangkat tangan
f.
Cara berhitung
Aba-aba
: Hitung – MULAI
Pelaksanaannya:
1)
Jika bersaf, pada aba-aba peringatan penjuru tetap melihat ke depan, saf
terdepan memalingkan mukanya ke kanan.
2)
Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut di mulai dari penjuru menyebutkan
nomornya sambil memalingkan muka ke depan.
3)
Pengucapan nomor secara tegas dan tepat.
4)
Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua anggota tetap dalam sikap
sempurna.
5)
Pada aba-aba pelaksanaan mulai dari penjuru kanan berturut-turut ke belakang
menyebutkan nomornya masing-masing.
6)
Jika pasukan berbanjar/bersaf tiga, maka yang berada paling kiri mengucapkan :
LENGKAP atau KURANG SATU/KURANG DUA.
- Perubahan Arah
(dalam
keadaan berhenti)
a)
Hadap kanan/kiri
Aba-aba
: Hadap kanan/kiri – GERAK
1)
Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri lekukan kaki
kanan/kiri berada di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki
kiri/kanan.
2)
Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°
3)
Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
b)
Hadap serong kanan/kiri
Aba-aba
: Hadap serong kanan/kiri – GERAK
Pelaksanaannya:
1)
Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri
2)
Berputarlah arah 45° ke kanan/kiri
3)
Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri
c)
Balik kanan
Aba-aba
: Balik kanan/kiri – GERAK
Pelaksanaannya
:
1)
Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari hadap
kanan) di depan kaki kanan.
2)
Tumit kaki kanan beserta badan diputar ke kanan 180°
3)
Kaki kanan/kiri dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
Catatan:
·
Dalam keadaan berhenti pada hitungan ke tiga, kaki dirapatkan dan kembali ke
sikap sempurna
·
Dalam keadaan berhenti berjalan pada hitungan ketiga, kaki kanan/kiri tidak
dirapatkan melainkan dilangkahkan 0,5 langkah dengan cara dihentikan.
d)
Cara berkumpul
Aba-aba
: 3 bersaf/ 3 berbanjar kumpul - MULAI
Pelaksanannya
:
1)
Pelatih menunjuk seorang anggota sebagai penjuru dan orang yang ditunjuk
mengulangi perintah yang diberikan oleh pelatih.
Contoh:
Sdr.Gatot
sebagai penjuru. Aba-aba pelatih : Gatot sebagai penjuru. Oleh orang yang
ditunjuk (dalam sikap sempurna) aba-aba diulangi : Gatot sebagai penjuru.
2)
Orang yang ditunjuk tadi lari dan berdiri di depan pelatih ± 4 langkah
3)
Setelah aba-aba pelaksanaan MULAI diberikan pelatih, maka orang-orang lainnya
berlari dan berdiri disamping kiri penjuru serta meluruskan diri seperti pada
waktu lencang kanan.
4)
Pada waktu berkumpul, penjuru melihat ke kiri setelah lurus, penjuru memberikan
isyarat dengan perkataan LURUS, pada isyarat ini penjuru nelihat ke depan, yang
lainnya (saf depan) menurunkan lengannya dan kembali ke sikap sempurna.
e)
Cara latihan memberi hormat
Aba-aba
: Hormat - GERAK
Pelaksanaannya
(dengan tutup kepala, keadaan berhenti)
1)
Pada aba-aba pelaksanaan, dengan gerakan cepat tangan kanan diangkat ke arah
pelipis kanan, siku-siku 15° serong ke depan, kelima jari rapat dan lurus,
telapak tangan serong ke bawah dan kiri ujung, jari tengah dan telunjuk
mengenai pinggir bawah dari tutup kepala setinggi pelipis.
2)
Pergelangan tangan lurus, bahu tetap seperti dalam sikap sempurna, pandangan
mata tertuju kepada yang diberi hormat.
3)
Jika tutup kepala mempunyai klep, maka jari tengah mengenai pinggir klep.
4)
Jika selesai menghormat, maka lengan kanan lurus diturunkan secara cepat ke
sikap sempurna.
a)
Bubar
Aba-aba
: Bubar - JALAN
Pelaksanaannya;
Pemberian
aba aba tersebut dilaksanakan dalam keadaan sikap sempurna. Setelah melakukan
penghormatan kemudian balik kanan dan setelah menghitung dua hitungan dalam
hati, lalu bubar.
b)
Jalan di tempat
Aba-aba:
Jalan ditempat - GERAK
Pelaksaannya:
Gerakan
dimulai dengan mengangkat kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat, paha
rata-rata, ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai dengan langkah
biasa, badan tegak, pandangan mata tetap ke depan, lengan dirapatkan pada badan
(tidak melenggang)
Dari
jalan ke tempat berhenti.
Aba-aba
: Henti – GERAK
Pelaksanaannya:
Pada
aba-aba pelaksanaan dapat dijatuhkan kaki kiri/kanan,pada hitungan ke dua kaki
kiri/kanan diharapkan pada kaki kiri/kanan dan kembali ke sikap sempurna.
c)
Membuka/menutup barisan.
Aba-aba
: Buka barisan – JALAN
Pada
aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah ke samping kanan
dan kiri, sedang regu tangah tetap di tempat.
Catatan
:
Membuka
barisan gunanya untuk memudahkan pemeriksaan.
Tutup
barisan
Aba-aba
:tutup barisan – JALAN
Pelaksanannya
:
Pada
aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah kembali ke samping
kanan dan kiri, sedang regu tengah tetap ditempat.
Gerakan
berjalan dengan panjang tempo dan macam langkah
|
Macam langkah
|
Panjangnya
|
Tempo
|
|
|
1.
|
Langkah biasa
|
65cm
|
120 tiap menit
|
|
2.
|
Langkah tegap
|
65cm
|
120 tiap menit
|
|
3.
|
Langkah perlahan
|
40cm
|
30 tiap menit
|
|
4.
|
Langkah kesamping
|
40cm
|
70 tiap menit
|
|
5.
|
Langkah ke belakang
|
40cm
|
70 tiap menit
|
|
6.
|
Langkah ke depan
|
60cm
|
70 tiap menit
|
|
7.
|
Langkah di waktu lari
|
80cm
|
165 tiap menit
|
A.
MAJU – JALAN
Dari
sikap sempurna
Aba-aba
: Maju – JALAN
Pelaksanaannya:
1)
Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diayunkan ke depan, lutut lurus, telapak
kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ± 15 cm, kemudian dihentakkan
ke tanah dengan jarak setengah langkah dan selanjutnya berjalan dengan langkah
biasa.
2)
Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°,
lengan kiri 30° ke belakang, pada langkah selanjutnya lengan atas dan bawah
lurus dilenggangkan ke depan 45°, dan ke belakang 30°.
Seluruh
anggota meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada belakang leher.
Dilarang
keras : berbicara-melihat kanan/kiri
Pada
waktu melenggangkan tangan supaya jangan kaku.
B.
LANGKAH BIASA
1)
Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempurna. Waktu
mengayunkan kaki ke depan lutut dibengkokkan sedikit (kaki tidak boleh
diseret). Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan.
2)
Cara melangkahkan kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit
diletakkan di tanah selanjutnya lurus ke depan dan ke belakang di samping
badan. Ke depan 45°, ke belakang 30°. Jari-jari tangan digenggam, dengan tidak
terpaksa, punggung ibu jari menhadap ke atas.
C.
LANGKAH TEGAP
1)
Dari sikap sempurna
Aba-aba
: Langkah tegap – JALAN
Pelaksanaannya
:
Mulai
berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama selebar setengah langkah,
selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara kaki
dihentakkan terus menerus tetapi tidak dengan berlebih-lebihan, telapak kaki
rapat dan sejajar dengan tanah, lutut kaki tidak boleh diangkat tinggi. Bersama
dengan langkah pertama lengan dilenggangkan lurus ke depan dan ke belakang di
samping badan, (lengan tangan 90° ke depan dari 30° ke belakang). Jari-jari
tangan digenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.
2)
Dari langkah biasa
Aba-aba
: Langkah tegap – JALAN
Pelaksanaannya
:
Aba-aba
pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu
langkah selanjtnya mulai berjalan seperti tersebut pasa butir 1.
3)
Kembali ke langkah biasa
Aba-aba
: Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya
:
Aba-aba
diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan mulai
berjalan dengan langkah biasa, hanya langkah pertama…….
Catatan
:
Dalam lsedang berjalan cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap/langkah biasa-JALAN, pada tiap-tiap perubahan langkah (tanpa kata maju).
Dalam lsedang berjalan cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap/langkah biasa-JALAN, pada tiap-tiap perubahan langkah (tanpa kata maju).
D.
LANGKAH PERLAHAN
1)
Untuk bergabung (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran)
Aba-aba
: Langkah perlahan maju – JALAN
Pelaksanaannya
:
a)
Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna
b)
Pada aba-aba “jalan”, kaki kiri dilangkahkan ke depan, setelah kaki kiri
menapak di tanah segera disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan
sebentar di sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjutkan ditatapkan kaki kanan
di depan kaki kiri.
c)
Gerakan selanjutnya melakukan gerakan-gerakan seperti semula.
Catatan
:
·
Dalam keadaan sedang berjalan, aba-aba adalah “langkah perlahan JALAN” yang
diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah ditambah selangkah dan
kemudian mulai berjalan dengan langkah perlahan.
·
Tapak kaki pada saat menginjak tanah tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata-rata
untuk lebih khidmat.
2)
Berhenti dalam langkah perlahan
Aba-aba
: Henti – GERAK
Pelaksanaannya
:
E.
LANGKAH KE SAMPING
Aba-aba
: ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN
Pelaksanaannya
:
Pada
aba-aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilanjutkan ke samping kanan/kiri sepanjang
40 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kiri/kanan.Sikap badan
tetap seperti pada sikap sempurna, sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan
empat langkah.
F.
LANGKAH KE BELAKANG
Aba-aba
: ……..Langkah ke belakang – JALAN
Pelaksanaannya
:
Pada
aba-aba pelaksanaan, peserta melangkah ke belakang mulai kaki kiri menurut
panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah ditentukan, menurut
jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh dilenggangkan dan sikap
badan seperti dalam sikap sempurna. Sebanyka-banyaknya hanya boleh dilakukan
empat langkah.
G.
LANGKAH KE DEPAN
Aba-aba
: …….Langkah ke depan – JALAN
Pelaksanaannya
:
Pada
aba-aba pelaksanaan, peserta melangkahkan kaki ke depan mulai dengan kaki kiri
menurut panjangnya langkah dan tempat yang telah ditentukan, menurut jumlah
langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti gerakan langkah tegap dan
dihentikan dan sikap seperti sikap sempurna. Sebanyak-banyaknya hanya boleh
dilakukan empat langkah.
H.
LANGKAH DI WAKTU LARI
1)
Dari sikap sempurna
Aba-aba
: Lari maju – JALAN
Pelaksanaannya:
Aba-bab
peringatan ke dua tangan dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang
sebelah depan dengan punggung tangan menghadap keluar, ke dua siku sedikit ke
belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai
lari dengan menghentakkan kaki kiri setengah langkah dan selanjutnya menurut
panjang langkah dan tempo yang ditentukan dengan kaki diangkat secukupnya.
Telapak kaki diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan
dilenggangkan secara tidak kaku.
2)
Dari langkah biasa
Aba-aba
: Lari – JALAN
Pelaksanaannya:
Aba-aba
peringatan pelaksanaannya sama dengan ayat 1. Aba-aba pelaksanaan diberikan
pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah kemudian ditambah satu langkah,
selanjutnya berlari menurut ketentuan yang ada.
3)
Kembali ke langkah biasa
Aba-aba
: Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya
:
Aba-aba
pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah ditambah tiga
langkah, kemudian berjalan dengan langkah biasa, dimuali dengan kaki kiri
dihentakkan; bersama dengan itu kedua lengan digenggam.
Catatan
:
Untuk
berhenti dari keadaan berlari aba-aba seperti langkah biasa henti – GERAK.
Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke tanah
ditambah tiga langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua kepal tangan
diturunkan untuk mengambil sikap sempurna.
I.
LANGKAH MERDEKA
1)
Dari langkah biasa
Aba-aba
: Langkah merdeka – JALAN
Anggota
berjalan bebas tanpa terikat pada ketentuan panjang, tempo dan ketentuan
langkah. Atas pertimbangan Pimpinan, anggota dapat dijinkan untuk membuat
sesuatu yang dalam keadaan lain terlarang (antara lain berbicara, buak topi,
menghapus keringat). Langkah merdeka biasanya dilakukan untuk menempuh jalan
jauh/diluar kota/lapangan yang tidak rata. Anggota tetap dilarang meninggalkan
barisan.
2)
Kembai ke langkah biasa
Untuk
melaksanakan gerakan ini lebih dahulu harus diberikan ……………….samakn langkah.
Setelah langkah barisan sama, Pemimpin dapat memberikan aba-aba peringatan dan
pelaksanaan.
3)
Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya
:
Seperti
tersebut pada petunjuk dari langkah tegap ke langkah biasa.
J.
GANTI LANGKAH
Aba-aba
: Ganti langkah – JALAN
Pelaksanaannya
:
Gerakan
dapat dilakukan pada waktu langkah biasa/tegap. Aba-aba pelaksanaan diberikan
pada waktu kaki kanan/kiri di tanah kemudian ditambah satu langkah. Sesudah
ujung kaki kiri/kanan yang sedang di belakang dirapatkan pada badan. Untuk
selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Kemudian gerakan
ini dilakukan dalam satu hitungan.
C.Simpul – Simpul
|
Pionering at`u Tali temali
|
Bidang Tali Temali
Dalam tali temali kita sering
mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini sebenarnya berbeda
sama sekali. Tali adalah bendanya. Simpul adalah hubungan antara tali dengan
tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu,
balok, bambu dan sebagainya.
Macam simpul dan kegunaannya
1.
Simpul ujung tali
Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas
2.
Simpul mati
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin
3.
Simpul anyam
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam
keadaan kering
4.
Simpul anyam berganda
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam
keadaan basah
5.
Simpul erat
Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan
6.
Simpul kembar
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan
licin
7.
Simpul kursi
Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan
8.
Simpul penarik
Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar
9.
Simpul laso
Untuk gambar macam-macam simpul dapat dilihat di bawah ini

Macam Ikatan dan Kegunaannya
1. Ikatan pangkal
Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan
pangkal ini dapat juga
digunakan untuk memulai suatu ikatan.
2. Ikatan tiang
Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak
leluasa misalnya
untuk mengikat leher binatang supaya tidak
tercekik.
3. Ikatan jangkar
Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.
4. Ikatan tambat
Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan
tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga
dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan
untuk memulai suatu ikatan.
5. Ikatan tarik
Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada suatu tiang,
kemudian mudah untuk
membukanya kembali. Dapat juga untuk
turun ke jurang atau pohon.
6. Ikatan turki
Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher
7. Ikatan palang
8. Ikatan canggah
9. Ikatan silang
10. Ikatan khaki tiga
Untuk gambar macam-macam ikatan dapat
dilihat di bawah ini.


D.Semaphore
Semaphore
dalam Pramuka
Sejarah
Semaphore merupakan salah satu bentuk
isyarat menggunakan bendera yang lazim
digunakan ketika perang sipil di Amerika Serikat. Ketika itu bendera yang digunakan berwarna putih dan
oranye serta hanya terdiri dari satu bendera saja. Orang yang ditugaskan
melakukan isyarat bendera ini biasanya berdiri di sebuah
tempat yang tinggi atau di lantai yang tingginya sekitar 2-3 meter dari
permukaan tanah semaphore
Semaphore
Modern
Semaphore kini menggunakan dua bendera yang berbentuk persegi, yang akan digunakan oleh pengirim sinyal untuk melakukan posisi-posisi yang bisa
diterjemahkan menjadi huruf dan angka.
Sebenarnya warna bendera tergantung asal pesan itu
dikirimkan, jika dikirimkan dari laut, maka benderanya berwarna merah dan oranye, jika
dikirimkan dari darat maka bendera akan berwarna
biru dan putih. Di Indonesia bendera yang biasa
digunakan dalam kegiatan kepramukaan berwarna merah dan oranye. Namun
sebenarnya warna bendera itu sendiri tidaklah terlalu penting,
itu hanya merupakan pertanda agar pesan lebih mudah ditangkap.
Penggunaan
Semaphore dalam Pramuka
Di Indonesia, semaphore biasa
diterapkan sebagai salah satu keahlian yang harus dimiliki dalam kegiatan pramuka[1]. Biasanya kegiatan semaphore
ini diajarkan sejak dalam level pramuka siaga dan merupakan keterampilan
yang dipraktekan pada acara perkemahan. Namun seiring dengan semakin redupnya
kegiatan pramuka di Indonesia, maka
keterampilan semaphore ini pun semakin jarang dikenal orang.[2]
Karakter
Untuk membuat sandi angka, sebelum memulai
sandi maka harus diawali dengan sandi "nomor"
dan jika ingin kembali membuat sandi huruf
maka harus membuat sinyal "J"[3]
Beberapa sandi lainnya yang biasa digunakan dalam semaphore
adalah:
- U-R : berita siap dimulai
- K : siap menerima berita
- E (8 kali) : error / ada kesalahan
- I-N-I : ulangi
- A-R : berita selesai
- R : dapat menerima dengan baik
- A-S : tunggu
- M-K : geser kanan
- M-L : geser kiri.[4]
Semaphore
sebagai Sinyal Rel Kereta Api
Contoh penggunaan lainnya adalah pada sinyal kereta api. Semaphore ini
merupakan bentuk sinyal kereta api
pertama. Sinyal Semaphore diperagakan oleh sebuah tiang yang memiliki
lengan yang bisa memutar dan akan menunjukan sinyal kepada masinis. Sinyal ini dipatenkan oleh Joseph
James Stevens dan hingga saat ini telah menjadi sinyal mekanis yang
paling sering digunakan di berbagai negara.
Sejarah
Semaphore sebagai sinyal kereta api pertama kali diterapkan
oleh Charles Hutton Gregory pada jalur rel yang menghubungkan
London dan Croydon (sekarang bernama jalur
kereta London Brighton dan South Coast) di New
Cross, London tenggara, pada tahun 1842. Akhirnya
sinyal ini digunakan di sepanjang rel kereta di area tenggara[5]. Ide ini dikemukakan oleh John
Urpeth Rastick kepada Gregory. Akhirnya sinyal semaphore ini
digunakan di seluruh rel kereta api di Inggris pada tahun 1870. Lalu diadaptasi
oleh Amerika Serikat
pada tahun 1908[6].
Bentuk
Komponen
Lengan semaphore terdiri dari dua bagian yaitu; bagian
pertama yang terdiri dari kayu atau besi
dimana mempunyai poros di berbagai titik dan sebuah bingkai yang menyangga lensa
berwarna berbentuk lingkaran, yang akan
menyala sebagai bagian penggunaan sinyal. Kedua bagian tersebut akan
dikombinasikan ke dalam satu rangkaian.
Penggunaan lensa ini akan dikombinasikan dengan lampu pijar atau lampu
minyak agar bisa menyala. Namun pada masa sekarang lampu
yang digunakan sudah menggunakan lampu listrik.
Bahan-bahan yang biasanya digunakan dalam membuat pos sinyal untuk
sinyal semaphore adalah kayu, pipa baja,
kisi baja dan beton.
Rel kereta api di Tenggara Inggris biasanya juga terbuat dari rel yang
sudah tua atau tidak terpakai lagi.
Sinyal Dua Posisi dan Tiga Posisi
Sinyal semaphore pertama memiliki lengan yang bisa menunjuk
ke tiga posisi. Jika lengan membentuk horizontal
berarti “bahaya”, jika condong sejauh 45 derajat berarti “perhatian” dan jika
membentuk vertikal
maka berarti “bersih”. Yang berarti jalur rel bersih dari kereta lain dan aman untuk dilewati. Namun akhirnya tiga
posisi ini digantikan hanya dengan dua posisi, yaitu jika lengan condong 45
derajat maka berarti “perhatian” dan jika dalam posisi vertikal
berarti “bersih”. Dan penggantian ini pun diterapkan di seluruh Inggris.
Warna dan Bentuk Lengan
Merah digunakan sebagai warna terbaik untuk lengan semaphore
karena mencolok dan kontras dengan latar belakang sekitarnya. Biasanya agar
semakin mudah terlihat, akan ditambahkan tanda-tanda dengan warna lain yang
kontras seperti garis
atau titik. Bagian belakang lengan biasanya berwarna putih dengan tanda hitam.
Jika ternyata latar belakang yang ada juga dapat mengaburkan warna lengan, maka
biasanya akan ditambahkan papan (biasanya berwarna putih) untuk makin membuat
lengan kontras dan mencolok.
Pada tahun 1872, lengan pada semua sinyal masih berwarna merah. Baru
pada tahun 1920, perusahaan kereta api Inggris mewarnai sinyal jarak menjadi warna
kuning sementara sinyal berhenti tetap berwarna merah. Yang terus digunakan
hingga saat ini adalah merah sebagai tanda berhenti, kuning sebagai sinyal
jarak dan sinyal hijau jika lengan dalam keadaan mati atau “off”. Tapi
walau begitu penggunaan warna lainnya masih terjadi di negara-negara lain.
Cara Kerja
Sinyal semaphore dioperasikan oleh motor
listrik atau hidraulik.
Hal tersebut membuat sinyal tersebut dapat dikendalikan dari jarak jauh, atau
sinyal tersebut dapat bergerak secara otomatis. Sinyal semaphore juga
dibuat dengan antisipasi sedemikian rupa hingga jika tenaga listrik yang mendukung sinyal tersebut mati
atau rusak, maka lengan sinyal akan bergerak mengikuti gravitasi ke posisi horizontal.
Penggunaan
Semaphore Lainnya
Selain untuk kegiatan pramuka, sinyal
rel kereta api, semaphore juga digunakan untuk berkomunikasi
di pegunungan, dimana komunikasi oral atau elektronik susah untuk dilakukan dan tidak
memungkinkan. Kegiatan ini biasa dilakukan oleh Royal Canadian Mounted
Police yang biasa menggunakan tangan sebagai pengganti bendera. Penggunaan
semaphore ini juga diterapkan dalam patroli pantai, seperti Ocean City Maryland Beach Patrol,
sebagai alat komunikasi antar penjaga pantai[7].
Trivia
Huruf yang dapat dibentuk oleh bendera semaphore juga memiliki segi
artistik dalam motif yang digunakan. Salah satu contohnya adalah dalam bendera
yang digunakan oleh The Campaign for Nuclear Disarmament, yang
menggunakan simbol damai atau peace, pada tahun 1958. Simbol tersebut ternyata
merupakan kombinasi huruf N dan D, yang berarti Nuclear Disarmament yang
dikelilingi oleh lingkaran.
Contoh lainnya adalah album cover dari grup band The Beatles pada tahun 1965 yang albumnya
berjudul HELP.
Pada album cover tersebut tampak empat
personel The Beatles sedang mengeja kata ‘‘HELP’’
dengan sandi semaphore lewat tangan mereka. Namun sayang sekali album cover ini dianggap tidak menarik
dari segi estetik, sehingga untuk penjualan, album cover tersebut diperbaiki
sehingga lebih estetik dan menarik, walaupun posisi tangan keempat anggota The Beatles menjadi tidak memiliki arti





Tidak ada komentar:
Posting Komentar